Minggu, 26 April 2020

TETAP PRODUKTIF DI MASA PANDEMI


Dalam kondisi yang tidak mudah seperti sekarang ini lantaran kita dituntut untuk tetap stay at home, tentu ada beberapa hal yang membatasi langkah kita yang tidak lagi bisa sebebas biasanya. Selain harus beradaptasi dengan keadaan a new normal saat ini, kita pun dituntut untuk tetap
produktif di masa pandemi. Berikut cara-cara yang bisa kita lakukan agar tetap bisa produktif di masa pandemi.

1. Rutin berolahraga

Pict source : Google

Meski sedang di rumah aja, berolahraga tetap penting nih dilakukan. Tidak perlu melakukan olahraga yang berat, kita bisa melakukan olahraga ringan yang bisa tetap dilakukan meski #dirumahaja. Olahraga yang bisa dilakukan di rumah misalnya seperti yoga, cardio, atau minimal berjemur di bawah matahari langsung di pagi hari sambil melakukan stretching ringan kurang lebih 10-15 menit. Dengan begini, tubuh pun tetap bisa bergerak dan menghasilkan keringat meski #dirumahaja. Olahraga pun dapat dilakukan minimal 3 kali dalam seminggu, jadi nggak perlu olahraga setiap hari, yang penting dilakukan adalah tubuh tetap mendapatkan haknya untuk bergerak dan mebuang toxin-toxin di dalam tubuh yang dikeluarkan lewat keringan usai berolahraga.
Selain olahraga rutin, penting juga untuk tetap tidur tepat waktu. Pasti tidak sedikit di antara kita yang selama masa quarantine ini memiliki pola tidur terbalik, terlalu asyik menonton series drama Korea sampai subuh, atau contoh yang lainnya sering menjadi alasan kenapa jam tidur kita malah menjadi berantakan. Maka dari itu, penting sekali untuk tetap memiliki pola tidur yang teratur. Hal yang bisa kita lakukan di antaranya adalah mendisiplinkan diri untuk tetap tidur di jam – jam normal seperti jam 10 atau 11 malam, bisa juga sambil memasang alarm yang tersedia di gadget kita untuk menandakan jam tidur telah tiba. Kita juga bisa memulai membatasi penggunaan gadget terutama di jam-jam malam, supaya kita tidak tergoda membuka sosial media yang seringkali membuat kita lupa waktu lantaran terlalu asyik chatting atau membuka foto-foto di instagram atau media sosial lainnya.
Mendisiplinkan pola tidur ini juga bisa kita lakukan untuk mendisiplinkan kita untuk tetap bangun di pagi hari. Dengan tetap membiasakan diri untuk bangun pagi, tubuh pun akan jauh lebih sehat, sempat untuk berolahraga, dan jam-jam produktif kita pun semakin bertambah.

2. Jadwalkan Pekerjaan Kantor dan Rumah
Pict source : Google

Bagi seorang ibu yang bekerja, tentu ini tidaklah mudah untuk dilakukan di saat kita dituntut untuk tetap produktif mengurusi urusan domestik rumah dan pekerjaan di waktu yang bersamaan. Kita bisa mensiasatinya dengan cara menjadwalkan pekerjaan rumah dan kantor. Tentu akan lega sekali rasanya jika urusan rumah dan kantor bisa selesai dengan baik. Caranya kita bisa memulai mengagendakan pekerjaan rumah dan kantor dengan lebih terjadwal. Dengan membuat catatan-catatan kecil di sticky notes misalnya, atau menjadwalkan jam-jam produktif tersebut yang nantinya akan menjadi acuan kita dalam bekerja

3. Coba Memulai Berjualan Online
Pict source : Google

Di masa pandemi seperti ini, sebenarnya ada banyak potensi yang bisa digali, salah satunya adalah mulai berjualan online. Jadi, meski #dirumahaja kita bisa tetap produktif dan menghasilkan. Berjualan online ini pun bisa dimulai dari hal-hal yang kita senangi, misalnya berjualan makanan bagi yang senang memasak atau hobi makan sehingga tahu taste makanan – makanan enak. Atau kita juga bisa berjualan masker organik bagi yang hobinya skincare-an. Karena tidak dapat dipungkiri, meski #dirumahaja kulit juga tetap perlu dipenuhi kebutuhannya agar tetap terawat meski sedang di masa pandemi. Karena banyaknya yang sedang melakukan work from home kita juga bisa melihat potensi dan memanfaatkan peluang ini untuk mulai berjualan baju rumahan, hal ini dilakukan agar bisa tetap nyaman di rumah meski sambil bekerja. Semua potensi ini dapat kita lakukan secara online dengan memanfaatkan gadget dan koneksi internet tentunya. Dengan begitu, kita masih bisa tetap produktif di masa pandemi, bahkan bisa menjadi penghasilan sampingan juga lho.


4. Menanam Sendiri Sayuran di Pekarangan Rumah

Pict source : Google

Di masa pandemi seperti sekarang ini, kita juga wajib untuk mengkonsumsi makanan sehat dan vitamin guna menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Selain minum air yang cukup 2 liter atau sekitar 8 gelas perhari, mengkonsumsi buah dan sayur juga wajib dilakukan supaya kesehatan tetap terjaga, di samping mengkonsumsi vitamin dan suplement tubuh untuk menunjang kekebalan imun kita.
Hal ini menjadi menarik apabila kita mampu menanam sendiri sayuran atau buah-buahan yang kita butuhkan. Selain memiliki sisi ekonomisnya sendiri, hal ini pun bisa mendorong kita untuk lebih produktif selama #dirumahaja. Jika kita memiliki pekarangan yang cukup di rumah, kita bisa memulai menanam sayuran yang cukup cepat masa pertumbuhannya seperti kangkung, bayam, dan pakcoy dikarenakan tanaman ini sudah bisa kita panen beberapa minggu saja sejak penanaman pertama kali benihnya. Selain masa pertumbuhan yang cukup cepat, perawatan dalam merawat sayuran ini pun terbilang mudah, jadi untuk pemula seperti kita, cocok sekali untuk memulai bercocok tanam dan mencoba peruntungan kita di bidang cocok tanam ini.

Nah itu dia hal-hal yang tetap bisa dilakukan untuk tetap bisa produktif di masa pandemi seperti ini. Anjuran untuk tetap #stayathome atau work from home semoga tidak menjadi halangan ya untuk tetap produktif dan menjaga kesehatan tubuh. Semoga bermanfaat :)

Selasa, 03 Maret 2020

The Dearest

You have been gone 40 days ago, but still, the pain stays. 
Rasanya masih mau menyangkal kalau ini tidak benar-benar nyata
Rasanya masih mau menunggu, meski yg ditunggu tidak akan datang sambil ucap salam seperti biasa
Rasanya waktu berhenti, dan berjalan hanya di hari itu saja
Saat segala rasa paling tidak menyenangkan ramai-ramai menyusup ke dada
Rasanya, kupikir semua akan baik-baik saja
Hari-hari akan seperti biasa terlewati
Dua bulan kemarin, jiwa dan raga seolah dilatih paksa untuk membiasakan segalanya
Nyatanya, tidak akan ada kehilangan yg baik-baik saja
Seberapapun segalanya dipersiapkan
Rasa sakit itu ada
Entah kapan hilangnya
Atau mungkin tidak akan
Berair mata tiba-tiba kini menjadi biasa
Tidur dalam keadaan hati yang berat, dan terbangun dengan mata sembap, kini biasa
Ibu, Desi masih berusaha
Sampai hari ini
Bukan untuk menghilangkan, tapi untuk membiasakan segalanya yang tanpa Ibu
Everything seems rough here since to see and touch you become impossible, but i'm gonna through this surely
I love you and i'm really sorry for all of my mistakes.

Maaf untuk banyak waktu yang belum sempat kita habiskan berdua
Now i realized, i really need you



Sincerely,
Your dearest daughter.

Minggu, 16 Juni 2019

Review SOME BY MI AHA BHA PHA 30 Days Miracle Toner


Pada tulisan pertama saya tentang beauty review ini, saya ingin memberikan hasil review selama kurang lebih 1 bulan ini menggunakan Some by Mi 30 Days Miracle Toner. Banyak dari para beauty enthusiasts memakai produk ini karena klaim dari toner ini yang tidak hanya mampu mengecilkan pori-pori dan menghaluskan kulit wajah, katanya, toner ini pun ampuh untuk memperbaiki tekstur wajah. Wow.
Saya membeli toner ini di Shopee seharga 133rb. Terhitung sejak 6 Mei 2019 lalu saya menggunakan produk ini hingga sekarang. Oh ya, sebelum membeli full size-nya di Shopee, saya membeli ukuran travel size-nya terlebih dahulu, untuk tau apakah produk ini cocok di kulit saya. Setelah si travel size habis dan tidak ada reaksi alergi apapun di kulit saya, saya langusng membeli full size-nya tsb di Shopee.
Sejujurnya, produk ini adalah skincare Korea pertama bagi saya. Sebelumnya, saya belum pernah memakai produk Korea apapun terlebih lagi untuk skincare karena skincare saya lebih banyak didominasi dengan produk-produk dari Wardah )
Toner ini cair seperti air dan sedikit beraroma semacam aroma obat atau semacam tea tree. Warnanya pun bening seperti air. Saya biasanya menggunakan di pagi hari dan malam hari sebelum tidur menggunakan kapas.
Tampak depan kemasan toner Some by Mi

Tampak belakang. Sejujurnya, ga tau arti tulisannya apa T.T


Yang saya rasakan setelah 1 bulan menggunakan toner ini adalah tekstur kulit saya semakin kesini semakin membaik, memang tidak ada bekas jerawat yang sampai berlubang di kulit, tapi banyak terdapat bekas jerawat (flek hitam) dan bruntusan kecil di kulit saya, dan pori-pori saya terutama di sekitar pipi dekat hidung yang sebelumnya besar-besar sekarang terlihat mengecil dan kulit saya pun tidak se-berminyak biasanya sebelum saya menggunakan toner ini. Untuk klaim bahwa produk ini dapat memperbaiki tekstur kulit, di kulit saya sendiri yg notabene memang teksturnya alhamdulillah baik-baik saja. Mungkin teman-teman yang memiliki tekstur kulit tidak merata seperti bekas jerawat atau scars bisa mencobanya untuk membuktikan apakah Some by Mi ini benar-benar apuh untuk memperbaiki tekstur kulit.
Produk yang terdapat di kemasannya pun cukup banyak, saya kira dalam satu botol tsb hanya cukup untuk 30 hari, tapi ternyata lebih dari itu. Saya sudah menggunakan toner ini selama 30 hari lebih dan produk yang terdapat dalam botol masih tersisa ¾ nya. Mungkin bisa digunakan selama kurang lebih 1,5 bulan :)

Seharusnya ada foto kulit sebelum dan sesudah aku memakai toner ini, supaya temen-temen bisa lihat juga perubahannya, tapi sayangnya saya ga punya. Jadi saya hanya kasih perbandingan 2 foto selfie saya, yang saya ambil saat sebelum dan sesudah saya menggunakan toner ini. Selfie yg diambil saat kondisi saya menggunakan make up, tapi semoga tetep kelihatan ya perbedaannya dan bisa membantu temen-temen juga yang masih galau mau coba toner ini

Sebelum menggunakan toner Some by Mi

Setelah 30 hari pemakaian toner Some by Mi


Conclusion:
+ Menghaluskan kulit
+ Mengecilkan pori-pori, terutama di sekitar pipi dekat hidung
+ Mencerahkan warna kulit
+ Menyamarkan noda bekas jerawat

- setelah beberapa lama pemakaian, di bebarapa bagian kulit kadang terasa kering, terutama di bagian lipatan hidung.

Sekian review Some by Mi 30 Days Miracle Toner dari saya. Selamat mecoba juga, teman-teman :)

Rabu, 08 Mei 2019

Goblin

Untuk yg pernah kupanggil Goblin

Malam ini dan malam-malam sebelumnya, sepertinya aku sedang rindu. Entah kenapa, kepalaku sibuk memutar memori tentang hari-hari lalu yg banyak diisi denganmu.

Hei Goblinku, i hope you well, wherever you are.
Aku hanya mau bilang, maaf, banyak terima kasih yg belum sempat aku sampaikan.
Prihal kebaikan hatimu
Prihal hadirmu yg selalu ada
Prihal telingamu yg selalu siap mendengar
Prihal sabarmu yg batasnya sangat luas

Dear Goblin,
Hari-hariku pernah begitu nyaman, karena aku tau ada orang yg selalu siap sedia menjagaku
Kamu ingat di siang itu, saat pertama kalinya aku menangis dan menceritakan segala ketakutanku, kamu orang yg pertama ada. Penjagaanmu yg pertama kali menghampiri dan memastikan semuanya akan baik-baik saja.
Dear Goblin,
Kamu ingat di sore itu di tengah hujan deras, aku tengah menahan tangis yg rasanya mau meledak di dada, tanpa sengaja atau konspirasi semesta, kamu ada dan rela menampung segala kesalku, meredakan amarahku.
Dear Goblin,
Kamu ingat di sore hari lainnya, di bulan Ramadan, seperti saat ini, kamu menungguku di stasiun karna aku pundung, kamu lupa janji menemaniku makan Ayam Gepuk Pak Gembus. Lantas kamu berjanji mentraktir bakso, sesuai keinginanku, lalu sepanjang malam kita hanya jalan-jalan sekitaran One Bell Park saja dan berujung pada nasi goreng di depan gang rumahku.
Dear Goblin,
Kamu ingat di pagi hari itu, saat aku tengah resah-resahnyanya menyelesaikan kewajiban skripsi, kamu pernah berjanji mengajakku naik kereta gantung di Taman Mini, kalau2 skripsiku rampung kuselesaikan :)

Dear Goblinku,
Maaf, karena aku tak mampu menjadi pendengar yg baik saat kamu benar2 butuh telinga untuk mendengar kesedihanmu.
Dear Goblinku,
Maaf, karena aku tak mampu hadir di saat-saat terburukmu saat itu :(
Terima kasih sudah menenangkanku, "lo selalu punya gue" darimu adalah hal yg ingin selalu kuingat. Bahwa aku pernah dijaga sebegitu tulusnya, bahwa hari-hari yg aku punya pernah begitu aman dan nyaman.
Hari ini, aku hanya rindu
Rindu ketulusan hati dari orang yang menurutku paling baik sedunia. Hanya itu saja
Goblinku yg dulu pernah ikut2an nonton drama Korea Goblin, karena aku sibuk menceritakan drama itu setiap hari.

Goblinku yg baik hati
Tau bahwa kamu baik-baik saja, sudah cukup.
Tau bahwa senyummu masih dengan simpul yg sama, sudah cukup.
Aku tau, segala kebersamaan kita dulu memang tidak akan lagi bisa terulang.
Terima kasih sudah mengajarkanku untuk memiliki hati yg baik
"Tidak ada yang sia-sia" katamu
Semoga bahagia senantiasa meliputi hari-harimu.
Terima kasih atas ketulusan berteman denganku.

source: pinterest


Dari aku.

Senin, 30 April 2018

Museum Tour to Museum Nasional


Well, museum tour ini sebenernya adalah ide random saya dan teman saya hari Minggu kemarin pas lagi nge-Thai Tea bareng sambil kecapean habis lari di CFD. Saya dan teman saya ini punya ketertarikan yang sama sama hal-hal yang berbau sejarah dan masa lalu #okeskip. Terus tiba-tiba aja teman saya yang kemudian sebut aja namanya Rina, ngajak saya ikutan City Tour bareng jktgoodguide, tapi setelah liat jadwalnya, ternyata hari itu jktgoodguide hanya ada di jam 3 sore which is kita harus nunggu sekitar 4 jam buat ikutan tour-nya. Karena mikir dari pada kelamaan nunggu, si Rina ngajak saya ke Museum Nasional setelah melewati perdebatan-perdebatan sengit kira-kira museum mana yang kira-kira mudah dijangkau dari posisi kita yang lagi ada di daerah Sudirman.

Ceritanya udah sampe kan nih kita di Museum Nasional, tapi ternyata sebagian museum masih dalam tahap renovasi. Menurut Mba yang di museumnya bilang tahap renovasinya selesai sekitar bulan Mei nanti. Tapi kita tetep bisa masuk ke museum ke yang bagian sebelahnya lagi, dari pintu masuk ke arah kanan. Untuk biaya masuk museum ini cukup dengan 5 ribu rupiah aja dan kita bebas jelajah museum disana sampe pegel. Kesan pertama yang saya tangkep dari museum ini sih bagus yah, pelayanannya oke, bersih, rapi, dan tata letaknya juga asik-asik aja (menurut saya yang jarang banget-banget jalan-jalan ke museum). Terus kebetulan banget nih hari itu juga lagi ada pementasan dari Teater Koma judulnya “Mangan Ora Mangan, Gempur!”. Jadi yaudah sekalian deh saya dan Rina nonton pementasannya juga. Pementasannya ada di jam 12.30 siang, dan saat itu saya sampai di museum jam 12 siang, jadi waktu 30 menit itu kita manfaatin untuk liat-liat di lantai 1. Di lantai 1 ini kalian akan lihat sejarah perkembangan manusia. Isinya mostly fosil-fosil dari manusia purba, hewan-hewan purba, dan barang-barang peningggalan manusia-manusia purba itu sendiri. Di tiap fosil-fosil tersebut ada keterangan dan penjelasannya dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan penjelasannya itu sangat jelas banget, ya mirip-miriplah sama apa yang diceritain di buku Sejarah pas SMP dulu. Hal paling menarik di lantai 1 nya sih adanya patung manusia purba dan gimana kehidupan mereka pada zaman tersebut yang saya lihat kayaknya cukup menarik perhatian pengunjung dan langsung refleks pada foto di depan patung tsb.
Foto ini yang paling iconic yang ada di lantai 1 museum.

Setelah lihat-lihat koleksi yang ada di lantai 1 sekitar 30 menitan, saya dan Rina lanjut nonton pementasan "Mangan Ora Mangan, Gempur!" dari Teater Koma. Pementasannya gratis, jadi kita cukup registrasi nama aja sebelum nonton. Pementasannya kira-kira sekitar 60 menit, dan selama pementasan saya pribadi terhibur karena casts-nya asik dan lucu, ceritanya juga jelas dan nggak bikin otak mikir ngejelimet gitu. Saya boleh ya certain sedikit isi cerita dari pementasan tersebut. Jadi, selama kurang lebih 60 menit, diceritain kalau pada waktu itu Sultan Agung dari Kota Gede Jogjakarta memiliki ambisi untuk menyebarkan wilayah kekuasaannya ke Batavia, yang saat itu wilayah Batavia masih dikuasai oleh Belanda di bawah kekuasaan VOC. Sultan Agung ini udah ngelakuin tahap negosiasi dengan pihak Belanda supaya Belanda mau ngelepasin Batavia, tapi sayangnya Belanda menolak. Sampai akhirnya pada tahun 1628-1629 Sultan Agung mengirim pasukan ke Batavia untuk ngerebut wilayah tersebut dari kekuasaan Belanda. Menariknya nih, meskipun Sultan Agung ngirimin pasukan yang jumlahnya banyak banget (jauh banget sama jumlah pasukan VOC) tapi tetep aja mereka kalah. Pertama kali Sultan Agung kirim pasukan (yang jumlahnya saya lupa) dengan ngelawan pasukan VOC yang jumlahnya hanya 3000 pasukan aja, lalu pasukan Sultan Agung ini kalah. Kedua kalinya, Sultan Agung kirimin lagi pasukan dengan jumlah yang lebih banyak, 25.000 pasukan dengan ngelawan pasukan VOC yang jumlahnya jauh lebih sedikit dan tetap aja dong pasukan ini kalah. Nah dari pementasan ini nih dijelasin fakta sejarah yang nggak kita dapetin di sekolah. Jadi dijelasin kenapa sih pasukan Sultan Agung kok kalah perang terus ngelawan Belanda padahal diliat dari jumlah pasukan yang sejujurnya timpang banget itu, harusnya bisa dengan mudah dong menang dan ngerebut Batavia. Kalo kita ngira kekalahan tersebut karena faktor senjata yang dipakai pasukan Belanda lebih canggih, NO, bukan itu jawabannya. Faktor yang bikin pasukan tersebut kalah terus adalah karena kelaparan. Kelaparan? Iya, kelaparan. Pasukan yang dikirim Sultan Agung dari Kota Gede di Jogja untuk ke Batavia butuh waktu sekitar 3 bulan dengan berjalan kaki dengan rute jalur Pantai Utara. Nah sayangnya, pasukan tersebut nggak dibekali dengan perbekalan yang cukup. Jadi ketika pasukan sampai di Batavia, rata-rata energi mereka udah terkuras habis selama perjalanan karena kelaparan, dengan begitu, pasukan Belanda yang walaupun jumlahnya lebih sedikit dari pasukan Sultan Agung, ya dengan mudah bisa menangin perangnya deh. gitu ceritanya. Ada juga dialog di pementasan tersebut yang saya inget, ceritanya ada anak “zaman now” yang nanya kenapa sih pahlawan tuh selalu digambarin sebagai sosok yang gagah dan tangguh tapi kalah perang terus dan ngapain juga sih kita tuh mesti belajar sejarah. Dijawab sama cast yang satunya kalau belajar sejarah itu bukan hanya untuk mengelu-elukan pahlawannya, tapi untuk mengetahui gimana sih sebenernya keadaan dan kondisi yang sesungguhnya saat itu, dan gimana masyarakat saat itu menyikapinya. Kalau pertanyaan kenapa pahlawan kalah perang terus, udah dijawab dari pementasan tersebut salah satunya karena kondisi prajurit perang yang saat itu nggak mendapatkan perbekalan yang cukup sehingga kelaparan, karena prinsip raja saat itu dalam berperang adalah “Mangan Ora Mangan, Gempur!”, ternyata gitu intinya kenapa judulnya juga serupa sama pesan dari cerita pementasannya.
Cerita soal pementasan teaternya udah selesai nih, selanjutnya kita bisa ikutan Jelajah Museum  dan ada guide-nya. Sebelum Jelajah Mueumnya dimulai, guide-nya ngejelasin kalau kita bakal jelajah ke lt.4 museum. Guide-nya ini ramah banget dan murah senyum, tapi saya lupa nama Mba guide-nya siapa ( nah sebelum naik ke lantai 4, kita diingetin kalau selama di lantai tersebut ngga dibolehin sama sekali untuk ambil dokumentasi dalam bentuk apapun baik foto maupun video. Tapi saya agak kecewa gitu sih karena masih ada aja pengunjung yang nggak disiplin karena dia ambil gambar dan video di lantai 4, akhirnya ditegur deh sama penjaga di lantai 4 itu (jangan dicontoh ya guys) :(( nah di lantai 4 itu sebenernya isinya barang-barang peninggalan raja kayak mahkota, perhiasan, keris, tombak, dll. Disitu Mba guide-nya ngejelasin satu persatu barang peninggalan tersebut, walaupun nggak semuanya karena banyak banget guys. Sisanya kita boleh eksplor sendiri lihat-lihat koleksinya dan ada penjelasaanya kok di tiap2 benda tersebut, tapi harus tetep disiplin dan ikutin aturan museumnya ya untuk ga ambil dokumentasi dalam bentuk apapun.

Karena kemarin kondisinya saya dan Rina kecapean banget abis lari, jadi kita ga bisa eksplor semua apa aja koleksi Museum Nasional di tiap lantainya. Setelah dari lantai 4 tersebut kita cus pulang. Tapi kita happy banget karena selain kita yang emang cinta banget sama hal-hal masa lalu, museumnya juga kece banget dan nggak nimbulin kesan yang ngebosenin kayak museum-museum pada umumnya. Cuma sayang aja karena sebagian museum masih tahap renovasi jadi kita nggak bisa eksplor lebih banyak deh, padahal menurut Rina bagian yang direnovasi itu justru bagian yang banyak hal-hal menariknya. Semoga renovasinya bisa cepet rampung dan ya, surely I’ll be back to Munas. Hehe
Ini tembok yg iconic banget juga di lantai 4
Disini masih dibolehin untuk ambil gambar, tapi ketika masuk ke dalem, udah ngga boleh ya.


30 April 2018

Kamis, 21 Desember 2017

#SIDANGBAHAGIA


Saya percaya kalau setiap skripsi itu pasti punya cerita, entah cerita ngebahagiain, pahit, manis, asam, asin, gabung deh udah kayak merk permen. Huehehe. Bisa dibilang nih ya, skripsi itu bentuk perjuangan seorang mahasiswa yang paling nyata, dimana mereka harus berjuang melawan rasa malas di diri sendiri, bolak-balik ke kampus untuk bimbingan, serta ngebagi waktu antara skripsi dan kegiatan lain di luar kampus (yang kaya gini karna biasanya mahasiswa tingkat akhir tuh ada aja kegiatan sampingannya selain nyekripsi, if you know what I mean) :)))

Kalo banyak yang bilang sebaiknya ketika menyusun skripsi maka kita harus fokus, artinya kita ga punya kegiatan lain selain skripsian aja, skripsian lagi, skripsian terus setiap hari, sungguh saya nggak setuju sih. Berkali-kali saya coba fokus dengan nggak sambil nge-job di WBA selama sebulan penuh contohnya, tapi nggak bisa, aslik. Saya bukan tipe orang yang bisa duduk manis aja ngerjain skripsi tanpa melakukan kegiatan sampingan apapun yang bikin saya happy. Dan tanpa bermaksud denial sedikitpun, dengan tetap menerima job sana-sini toh nyatanya, ternyata saya bisa juga sampai di tahap “yeay, skripsi gue beres”. Gitu. Fokus sama apa yang sedang dilakukan tuh bagus sih tapi bukan berarti orang yang melakukan beberapa profesi sekaligus itu berarti nggak fokus, nggak sama sekali. Justru saya salut dan kagum banget sama orang-orang yang multitasking. Lo dibutuhkan banget di zaman now yow.

Saya mau sharing nih, gimana proses pengerjaan skripsi saya sampai akhirnya sidang. Well, I know it is not the end because masih ada revisi-revisi dan segala perintilannya yang harus dilalui, but at least it one step closer to reach my dream. Saya nyusun skripsi terhitung sejak Maret dan selesai nyusunnya tuh sekitar Oktober sebenernya. Lama banget yak, iyak I know :( sekitar 7 bulan waktu saya untuk menyusun sebuah maha karya yang nggak maha-maha amat sebenernya. Saya dibimbing sama dosen yang Alhamdulillah baik dan sabar banget. Terus ritme bimbingan saya juga nggak beraturan sumpah. Kalau lagi rajin bisa seminggu sekali, kalu lagi malas atau sedang sibuk-sibuknya dengan kehidupan lain (halah) bisa sampai sebulan atau bahkan lebih nggak pernah bimbingan sama sekali. Heheehe. Di kala penyusunan ini berasa banget sih pentingnya sebuah konsistensi, tekad yang kuat, motivasi yang tinggi serta api semangat yang harus terus nyala, karena kalau padam sedikit aja, buyar deh udah. Terus juga kalo saya pribadi, waktu ngerjain skripsi tuh selalu ngerjainnya di perpus kampus. Kenapa nggak di rumah? Karena di humz saya ngerasa terlalu banyak godaan untuk bermain-main, untuk boci-boci syalala, atau melakukan hal unfaedah lainnya. Nggak tau kenapa kalau di rumah tuh bawaannya mager, ingin bobok terus  gitu hawanya. Nah makanya kita harus nemuin tuh kenyamanan hakiki kita untuk nyekripsi dimana. Kalo nyamannya di rumah di kamar sendiri ya rapopo malah lebih enak kan nggak perlu ribet keluar rumah, tapi kalo emang nyamannya di luar rumah, carilah tempat yang paling membuat nyaman dan temukan juga “skripsi-mate” kamu agar supaya makin semingits dan nggak sendirian. Misalnya mau solat atau ke toilet, kalau bawa temen jadi asik kan bisa saling titip laptop gitu. Detch, napa nyekripsinya nggak ke coffee shop tau cafe gitu kayak kids jaman now? Ya kalo ku setiap ngerjain skripsi harus ke coffee shop tekor toh mba uang jajanku. Buat yang kantongnya pas-pasan seperti diriku namun harus mengerjakan skripsi di luar, maka perpus kampuslah jawabannya. Uang jajan paling keluar untuk jajan seblak, cakwe, atau makan siang di kantin kampus muehehe hiks. Dan yg paling penting bisa nongki di perpus sampe bosen, sampe diusir sama penjaga perpusnya pun. Nggak perlu repot-repot beli jajalan lagi karena nggak enak nongki kelamaan. #prinsipmahasiswa

Lanjut ya, ada yang bilang “skripsi lo belom asik kalo lo belom sampe nangisin tuh skripsi lo.” Awalnya saya agak skeptik mendengarnya, tapi ternyata hal ini beneran kejadian di saya huhu. Jadi ceritanya waktu di Bab 2, saya nangis seada-adanya karena notebook saya ini agak kurang faedah kalo untuk buka pdf. Jadi tiap bacain sumber yang bentuknya pdf, saya harus pindahin ke hp dulu lalu membacanya via hp yang tulisannya kicil-kicil dan sungguh amat menyiksa mata saya yang minus campur silinder ini. sedih nggak sih. Tiap malem sambil baca-bacain pdf sambil nangis karena capek banget matanya belum lagi dengan berbagai sumber yang tidak sedikit itu. Ih sedih deh kalo diinget-inget lagi. Tapi, Allah emang nggak akan kasih cobaan di luar batas kemampuan hambaNya yah, setelah curhat ke sepupu tentang problemtika kehidupan ini dan bilang berniat mau sewa laptopnya teman aja, ternyata doi ada notebook nganggur yang bisa kupakai selama proses pengerjaan skripsi. Alhamdulillah

Akhirnya dengan segala drama dan php sana-sini, di tanggal 8 November skripsi acu akhirnya di-acc sama dosen pembimbing. Yuhuuuu. Kayaknya kalo nggak drama tuh nggak asik ya, momen-momen acc ini aja saya harus kejar-kejaran dan lari-larian karena saat itu kondisinya saya juga harus mengisi beauty class di fakultas saya. Dengan waktu yang minim, akhirnya saya nggak sempat foto dan update kayak orang-orang deh. U,u

Singkat cerita, pada suatu pagi yang mendung, iya mendung kan soalnya emang lagi musim hujan cuy, sambil gerimis-gerimis manja gutu, setelah nunggu kurang lebih 2 minggu akhirnya keluar juga tuh tanggal sidangnya. Sempet kaget, nggak percaya, terus mules (yang ini seriusan sampe numpang toilet Alfamidi) huehehe. Nah kesalahan saya adalah waktu tau tanggal sidangnya kapan tuh bukannya sibuk belajar kayak orang-orang, malah sibuk mikirin “gue pake baju apa ya, sepatu gue gimana ya, pake jilbab warna apa ya” dan segala printilan lain yang akhirnya beberapa hari sebelum sidang saya malah sibuk jajan hal-hal yang nggak penting-penting amat, penting sih tapi kan lebih penting langsung buat ppt terus belajar deh. Nah karena hal-hal tidak unch itu tuh, akhirnya saya baru benar-benar belajar itu h-3 sebelum sidang. Hari pertama sibuk bikin ppt lalu sibuk revisi sana-sini dan pangkas sana-sini agar slide-nya nggak kebanyakan, h-2 baru ngebut menghafal segala isi ppt dan presentasi. Kenapa menghafal? Karena saya tipe orang yang mengingat, menghafal, jadi kalau brainstorming di depan takutnya malah gugup dan nggak tau mau ngomong apa, makanya saya memutuskan untuk menghafal agar supaya lebih terstruktur dan sistematis ehehe. Ini tergantung masing-masing individunya sih lebih nyaman gimana. Lagi-lagi….nyaman. karena kenyamanan adalah koentji. #yaksip

And here I go, akhirnya sampai juga pada hari dimana segala perjuangan selama  4 tahunku dipertaruhkan. Eak. Jadwal sidang saya sebenernya jam 10 pagi, tapi dari jam 7 pagi udah cucok meong duduk di ruang sidang. Ajaib ga lo pas kuliah langganan telat masuk kelas apalagi kelas pagi, lalu pas sidang udah duduk manja h-3jam sebelum jadwal sidang #maloe. Ada kejadian lucuk campur haru gitu pas berangkat ke kampus hari itu, saya minta doa sama Ibu supaya dilancarkan sidangnya, nggak belibet lidahnya waktu presentasi, dan dimudahkan, karena the power of doa mamak sudah tidak diragukan lagi kekuatannya. Saya bilang “Bu, doain Desi ya.” Baru segitu aja, bener-bener satu kalimat itu aja, terus ibu saya langsung jawab “ iya” sambil sesenggukan dan mata berkaca-kaca. Hehehe jadi antara sedih, haru, dan ingin tertawa sendiri. Terus nyampe di kampus, lagi dan lagi, kebiasaan mules kalo pas gugup nggak pernah ketinggalan huhu. Terus sekadar tips aja nih, di hari kalian sidang, bahagiakanlah diri kalian semampunya, buat saya yang anaknya gampang dibahagiain dengan makanan, pagi itu saya sarapan dengan menu yang menjadi moodbooster dan bikin happy, mie goreng dan energen coklat. Definisi sarapan hakiki versi saya.

Terus sampe deh di waktu-waktu paling bikin deg-degan dalam hidup, lebih bikin deg-degan daripada diajak jalan sama gebetan deh aslik. Ketika akhirnya dosen penguji dateng dan duduk manis di depan sambil membawa skripsi saya dan mempersilahkan saya memulai presentasi. Dan alhamdulillahnya lagi, Allah sekali lagi mendengar doa-doa saya, sidang dan presentasi saya benar-benar dilancarkan dan dimudahkan. Dosen penguji yang sungguh baik hati banget sampe bawaanya pengin salim terus saking baiknya. Dan jantung yang tadinya mau lompat keluar nggak karuan akhirnya bisa berdegup normal kembali. Perasaan dapet ucapan selamat dari temen-temen dan mengingat jerih payah sendiri yang nggak mudah akhirnya kebayar gitu sama bahagianya sidang. Saya yang semalamnya meriang pun langusng lupa aja gitu. Terus apalagi ketika lo pulang ke rumah terus ngeliat wajah kedua orang tua sambil bilang “Alhamdulillah lulus” sambil malu-malu kucing hehe. Duh jadi kangen sidang :')

Skripsi itu punya cerita, pahit manis apapun rasanya, percayalah lo harus sampe di tujuan. Dan tepat dua hari setelah sidang, waktu lagi di perpus mau ngerjain revisian niatnya, tetiba aja saya mual dan ingin pinsan. Ingin nangis juga karena keadaannya saat itu saya sendirian, dan voilaaa ternyata Deci yang rapuh dan lemah ini sakit tipes gengs. Jadi malam-malam sebelum sidang saya selalu ngerasa meriang, pusing dan masuk angin itu yang awalnya saya pikir sugesti aja karena gugup mau sidang, ternyata bukan sekadar sugesti, tapi sakit yang sebenarnya. Makanya saya jadi rajin ngingetin temen-temen saya untuk belajar jauh-jauh hari sebelum sidang, karena sidang pake system kebut semalam itu sungguh tidak enak dan menyiksa.


Skripsiku sayang, tunggu aku ngerevisi kamu ya. Doakanku semoga lekas sehat agar supaya kamu nggak lama-lama berantakannya. Aamiin

20 Desember 2017

Selasa, 21 November 2017

Drama Korea Terbaik Versi Deci; Reply 1988 dan Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo


Yak, akhirnya saya ngebahas ke-Korea-an jugaaaa hahaha. Mungkin ini yang dinamakan kemakan omongan sendiri, karena pada awalnya saya sangat amat anti sama yang namanya ke-Korea-an, buta sama sekali dengan musik, drama, atau hal-hal lain yang berbau Kpop. Karena menurut saya saat itu tuh, “Apaan sih lo lebay banget ngefans sama orang sampe segitunya.” Eh….kemakan omongan sendiri T_T Well, judulnya Drama Korea Terbaik, tapi bukan versi  acara Award bergengsi, ini Cuma versi saya, berdasarkan apa yang saya tonton dan lihat yang sebenernya pengalaman nonton drama Koreanya belum ada apa-apanya pasti sama temen-temen di luar sana, karena seinget saya kayaknya judul drama Korea yang pernah saya tonton jumlahnya belum lebih dari 10 judul. Wkwkkwk.  
Karena belakangan lagi ketagihan sama yang namanya “ngedrakor”, saya inget-inget lagi virus demam Korea ini pertama kali ditularkan temen kuliah saya yang saat itu, kami sedang sama-sama dipusingin sama yang namanya semprop huhu. Karena kita sering ngerjain semprop bareng di perpus kampus sampai malam, saya jadi tau aktivitas dia dari pagi sampe pagi lagi. Nah selama ngerjain semprop di perpus itu tuh temen saya, sebut aja namanya Japira, suka asik sendiri sama dunianya di depan laptop. Kadang senyum-senyum, terus ketawa-ketawa, terus tiba-tiba mukanya langsung berubah ke yang galau sedih gitu. Akhirnya saya Tanya dong…
Deci: “Lu kenapa Jap?”
Japira: *lepas headset* “Gue lagi nonton Reply88 ih seru bangetttt.”
Deci: “Yeuuu kebiasaan.”
Japira: “Lu harus nonton ini juga babs sumpah seru banget ceritanyaaaa.”
Deci: “Nanti aja ah kalo udah selesai semprop w minta Jap. Kerjain semprop luuuu.”
Japira: “Udaaaah. Ini gue lagi istirahat dulu makanya nonton ini.”
Deci: “ooooo.”

Nah dari situ tuh saya mikir kok kayaknya seru juga misalkan otaknya lagi buntu pas nyemprop, istirahat dulu nonton drama hehehe. Besoknya, saya minta drama korea sama si Japira ini, tapi bukan Reply88 yang dikasih karena dramanya masih on going, jadi dia kasih drama yang emang udah selesai dan cukup recommended untuk saya tonton, judulnya Goblin. Awal denger ‘Goblin’ dari Japira tuh masih asing banget di telinga, sampe saya tanya ke dia Goblin tuh artinya apa. Terus dia jelasin dong dengan sabar huehehe. Goblin ini bukan drama terbaik terfavorit versi saya sih, tapi ini drama Korea pertama yang saya tonton. Dan berkat Goblin ini, akhirnya saya mulai ketagihan nontonin drama Korea dan jadi langganan nge-copy drama dari Japira <3
Kalo ngebahas Kpop tuh rasanya terlalu luas buat saya, karena sejujurnya saya bener-bener ga tau banyak. Yang saya mau bahas disini adalah dua drama Korea terbaik versi saya, yang lewat drama tersebut saya jadi sadar betapa kerennya industri hiburan di Korea sana. 

Pertama, Reply 1988. Ini drama kedua yang saya tonton setelah Goblin. Karena Reply88 ini, saya yang awalnya jatuh cinta banget sama drama Goblin terus jadi berubah biasa aja gitu karena ternyata banyak banget drama-drama keren yang wajib banget ditonton dan alur ceritanya “nggak biasa”. Reply88 ini juga hasil nge-copy dari Japira. Awalnya nonton drama ini tuh astagaaaa ngantuk bangetttt terus subtitle-nya nggak jelas gitu bahasanya kayak Google Translate. Di episode 1–2 awalnya saya nggak mau ngelanjutin drama ini karena menurut saya bikin ngantuk dan durasinya perepisode tuh kerasa lama banget. Tapi si Japira ini terus semangatin saya untuk tetep bertahan nonton karena ke belakang-belakangnya drama ini bakal seru banget (masih kata Japira). Yauda deh karena saya percaya banget sama orang ini khususnya dalam masalah per-drama-Korea-an, akhirnya saya paksain nonton walaupun sibuk nguap sana-sini.

Dan wow, setelah diikutin ceritanya, drama ini tuh ternyata bagus banget. Ceritanya sederhana, dengan latar tahun 80an, drama ini menyuguhkan sebuah tontonan yang banyak banget pesan moralnya. Tentang persahabatan, keluarga, cinta yang semuanya dibungkus apik dalam satu drama. Satu hal unik yang saya rasain dari drama ini adalah ketika nonton drama ini saya ngerasa jadi bagian dari lingkungan kompleks tersebut juga dan tetanggaan sama mereka semua. Di akhir cerita, ketika mereka diceritakan pindah rumah, saya jadi ikutan ngerasa kehilangan seolah saya satu-satunya orang yang tersisa di kompleks tersebut. Se-ngebekas itu drama ini tuh. Keren.
Drama ini juga bukan drama receh ala Korea atau Ftv dimana ceritanya mentok tentang laki-laki kaya raya yang jatuh cinta sama perempuan biasa aja. Perasaan saya bener-bener dibuat campur aduk ketika nonton drama ini karena drama ini menampilkan potret kehidupan sehari-hari yang sering juga kita alamin di kehidupan nyata. Ringan tapi berbobot gitu. Halah. Sometimes saya dibuat nangis ketika adegan Duk Seon dengan Ayahnya ketika Ayahnya coba nenangin Duk Seon yang nangis karena ngerasa selalu dinomor duakan dengan kakak perempuannya, terus dibuat ketawa-tawa ngakak ketika Duk Seon lagi ngumpul sama sahabat-sahabatnya, atau karena ulah konyol Papanya Jung Hwan dan istrinya, atau di akhir cerita yang tetiba dibuat nyesek sama drama cinta segitiga Duk Seon, Jung Hwan, dan Taek. Part ini yang paling bikin susah move on sih. Pokoknya banyak banget momen manis yang dikemas sederhana dalam drama ini, tapi berhasil banget nyampe ke hati yang nonton. Sweeeeeet.
Ketika drama ini udah berhasil saya tonton sampai habis, kayak ada perasaan ga rela gitu karena “Yah udah abis, terus gue nonton apa lagi nih.” Gitu. Mulai dari situ deh akhirnya ketagihan nontonin drama Korea dan jadi suka cari tau tentang budaya mereka. Sampe sekarang pun kalau lagi gabut kadang suka random nonton drama ini lagi. Bener-bener drama terbaik dan di luar ekspektasi saya gitu.

Drama terbaik versi saya selanjutnya adalah Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo. Ini drama bikin saya begadang sampai jam 4 pagi selama 2 hari demi melahap 20 episode sekaligus #sebuahpencapaian. Drama ini juga salah satu drama wajib tonton karena ceritanya yang juga “anti-mainstream” dari drakor-drakor lain. Latarnya tentang Korea zaman dulu yang masih kerajaan, pakaian pemainnya juga pakai baju tradisional ala Korea, dan menampilkan kehidupan era kerajaan yang apa-apa tuh harus nurutin perintah raja, sekali ngelawan langsung dihukum gantung karena dianggap berkhianat :((( Kalau Reply88 bikin saya jatuh cinta karena ceritanya yang sederhana tapi “mevvah”, nah di Scarlet Heart ini si pemeran utama alias Pangeran ke 4 alias Wang So alias Lee Joon Gi yang bikin saya kagum banget sama kemampuan aktingnya doi. Di Scarlet Heart ini tuh dia ceritanya jadi pangeran yang nggak dianggap sama keluarganya gitu dan diadopsi sama keluarga lain karena dia memiliki bekas luka di wajahnya. Karena bekas lukanya ini, yang sebenernya tuh ini karena ulah mamanya yang gila tahta gitu, bikin dia nggak pede dan selalu pakai topeng di wajahnya. Karena dari kecil udah ngejalanin kehidupan yang berat, makanya dia jadi tangguh banget gitu dan dijulukin “Wolf Dog” sama rakyat. Satu lagi hal yang bikin semua orang jatuh cinta sama tokoh Wang So itu karena sifat kstarianya yang “Gilak lo pangeran abisss.” Dia tetep setia di sisinya Hae Soo gitu dalam keadaan apapun, dan nggak pernah ingkar janji. Huffff.

Lewat Scarlet Heart ini, saya jadi kepo sama Lee Joon Gi, sebenernya orangnya tuh gimana sih. Terus gugling-gugling, nge-youtube, stalk-in instagramnya dan waaaaa makin jatuh hati aja rasanya. Saya jadi ngekepoin perjalanan karir dia dan gimana dia merangkak ngebangun karirnya sampai akhirnya ada di posisi sekarang, salah satu aktor terbaik yang Korea punya. Saya amazed sama keseriusan dia tiap meranin karakter apapun yang dia terima, salah satunya di drama The King and The Clown dimana Joon Gi berperan sebagai seorang gay dan ya, dia totalitas banget di peran itu, cantik banget kayak perempuan beneran T_T. Dia juga pernah meranin vampire di drama Scholar Who Walks The Night. Keren banget nggak sih dia bisa meranin berbagai macam karakter dan kesemua karakternya itu sukses dia peranin. Gilak ga sih lo. Dan Scarlet Heart ini udah hampir 3x saya tonton karena masih belum berhasil move on sama drama yang satu ini. Huhu T_T

Maafkan penjelasan yang panjang kali lebar ini dan maafin kalo kurang jelas ya penjabarannya. Satu hal baik yang bisa diteladanin dari artis-artis Korea ini adalah semangat dan keuletan mereka. Mereka juga selalu kasih contoh yang baik sama fansnya dan sangat amat menghargai fans mereka. Satu hal lagi yang saya baru tau hasil dari nge-youtube, bahwasanya mereka tuh aslinya rata-rata pada pemalu dan sopan-sopan banget, meskipun udah bertahun-tahun jadi “arteyz”. Beda banget ya sama disini, hehe.

20 November 2017