Minggu, 13 September 2020

Day 3. A Memory

 Masih dalam rangka mengistiqomahkan diri untuk konsisten menulis selama 30 hari. Memori atau kenangan paling membekas yang saat ini sedang gue ingat adalah satu hari sebelum hari berpulangnya Ibu.

Pagi itu, entah kenapa sebelum berangkat kantor kok rasanya mau make up-an ya, mau pakai baju yang bagus juga. Karena selama masa-masa merawat Ibu, jujur gue ga pernah dandan lagi tiap ke kantor. Bangun pagi, mandi, pake pelembab, sudah. Pakaian yang gue kenakan setiap haripun bisa dibilang "ngasal" karena gue pakai baju apapun yang ada di urutan paling atas di lemari gue. Ga mikirin nyambung atau ga, asalkan masih sopan dan rapi, yasudah.
Tapi hari itu, (yang belakangan gue baru tau lewat drama It's Okay Not To Be Okay tentang psikologi berpakaian-nya Koo Moon Young) hari itu gue pakai midi dress yang biasa gue pakai ke kondangan dengan wajah dipoles makeup tipis. Sepagi itu juga hati gue ga tenang karena sedari malam sibuk memikirkan "beli tabung oksigen dimana ya? :( "
Sedari siang pun suasana hati gue tambah ga karuan karena kakak ngabarin kondisi Ibu yang makin kritis. Gue yang saat itu sedang di kantor, makin gelisah, ga tenang, ga bisa konsentrasi selain nungguin jarum jam bergerak ke arah jam pulang.
Sore sekitar habis ashar, kakak gue ngabarin lagi Ibu yang semakin kritis dan akhirnya diputuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit dengan ambulans. Gue yang saat itu bahkan udah rapi-rapi sebelum jam pulang (jaga-jaga supaya bisa langsung cabut begitu jam pulang) langsung pesan ojek online dari kantor ke Rumah Sakit tujuan.
Di tengah perjalanan, gue nerima kabar lagi dari kakak kalau Ibu ditolak masuk Rumah Sakit A karena saat itu UGD penuh. Perasaan gue? Hancur.
Gue berusaha tetat tenang sambil mencoba memberikan solusi alternatif untuk coba dibawa ke Rumah Sakit B, C, D. Setelahnya kakak gue ngabarin kalo Ibu alhamdulillah diterima di salah satu UGD Rumah Sakit. Gue saat itu sampai RS tersebut bertepatan azan maghrib, gue buka puasa sebentar dengan Aqua yang gue beli di jalan. Dari Rumah Sakit tsb disarankan Ibu dibawa pulang kembali ke rumah setelah diberikan obat. Gue ikut mengantarkan Ibu dengan ambulans. Gue yang saat itu lumayan akrab dengan suaranya, sensasi duduk di dalamnya, juga perasaan-perasaan yang entah tiap kali masuk ke mobil tersebut.
Ibu sudah sampai kembali di rumah. Kami baringkan Ibu kembali sampai dirasa Ibu sudah nyaman. Malam sekitar pukul 11, gue biasanya pulang ke rumah bareng Abang. Entah kenapa malam itu rasanya gue berat untuk pulang. Rasanya mau terus ada di samping Ibu di rumah itu walaupun badan gue rasanya lelah dan belum juga buka puasa dengan benar sedari di Rumah Sakit.
Tapi akhirnya gue pulang ke rumah meski dengan perasaan yang berat. Dan tepatnya pukul 2 pagi, kakak gue mengabarkan kalau Ibu sudah pulang.
Terjawab sudah kenapa malam itu gue rasanya berat sekali untuk ninggalin Ibu. Kenapa sedari pagi hati gue terus diliputi perasaan yang entah apa namanya.
Bidadariku berpulang.

13 September 2020

Kamis, 16 Juli 2020

Dear Cahaya...


Kamu pernah bilang "ga enak banget rasanya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya". Tapi ternyata, dengan berkata begitu, bukan berarti kamu ga akan ngelakuin hal yg sama. Karena tepat, kamu baru aja melakukan hal-hal ga ngenakin itu ke aku.

Kamu pernah bilang "kalau ada yang rusak itu diperbaiki bukan dibuang". Tapi ternyata, dengan berkata kaya gitu ga ngejamin juga kamu akan melalukan hal yang sama.

Kamu juga bilang "Tenang aja, ada aku di saat duka dan dukamu. Tell me". Kamu tau aku kehilangan banyak hal, dan aku kira kamu adalah hal-hal yang ga akan hilang. Aku salah, aku diperdaya kesombonganku sendiri.

Aku selalu tanya "bete ga?", "marah ga?", "capek ga?", "nyebelin ya aku?". Tapi kamu selalu jawab "ga marah kok", "gapapa kok", "it's okay". Tapi ternyata kamu simpan amarahmu dalam-dalam. Hal-hal yang ga pernah aku sadari, kamu pendam semua sendiri dan parahnya, aku kira, kita baik-baik aja.

Aku rasanya dikhianati pikiranku sendiri. Kamu adalah hal yang aku yakini ga akan pergi.
Tapi aku lupa, kamu juga manusia.
Entah di bagian mana, sampai sekarang pun masih ga ngerti salahku yang mana aja yg buat kamu lelah. Mungkin ga hanya satu atau dua.
Aku ga ingin mencoba membela diriku, apa yang aku yakini benar, atau apa yang kamu yakini benar.
Kita ga baik-baik aja, meski sebenarnya kita masih punya kesempatan untuk perbaiki semua
Tapi kamu bilang, kamu lelah.
Kita ga bisa lebih maju lagi dari ini

Setelah kamu pergi, ini bukan lagi tentang kamu, atau teganya kamu, atau jahatnya kamu.
Bukan.
Ini sudah tentang aku dan pikiranku sendiri.
Rasanya masih kaya mimpi
Ada kamu, sekarang ga ada lagi
Tapi akupun ga bisa memaksa
Semoga kamu temukan apa yang kamu cari
Semoga kamu pahami apa yang kamu yakini benar
Bagian paling menyedihkan buatku bukan saat kamu pergi, tapi saat bahkan ga aku temukan lagi aku di matamu.



Minggu, 26 April 2020

TETAP PRODUKTIF DI MASA PANDEMI


Dalam kondisi yang tidak mudah seperti sekarang ini lantaran kita dituntut untuk tetap stay at home, tentu ada beberapa hal yang membatasi langkah kita yang tidak lagi bisa sebebas biasanya. Selain harus beradaptasi dengan keadaan a new normal saat ini, kita pun dituntut untuk tetap
produktif di masa pandemi. Berikut cara-cara yang bisa kita lakukan agar tetap bisa produktif di masa pandemi.

1. Rutin berolahraga

Pict source : Google

Meski sedang di rumah aja, berolahraga tetap penting nih dilakukan. Tidak perlu melakukan olahraga yang berat, kita bisa melakukan olahraga ringan yang bisa tetap dilakukan meski #dirumahaja. Olahraga yang bisa dilakukan di rumah misalnya seperti yoga, cardio, atau minimal berjemur di bawah matahari langsung di pagi hari sambil melakukan stretching ringan kurang lebih 10-15 menit. Dengan begini, tubuh pun tetap bisa bergerak dan menghasilkan keringat meski #dirumahaja. Olahraga pun dapat dilakukan minimal 3 kali dalam seminggu, jadi nggak perlu olahraga setiap hari, yang penting dilakukan adalah tubuh tetap mendapatkan haknya untuk bergerak dan mebuang toxin-toxin di dalam tubuh yang dikeluarkan lewat keringan usai berolahraga.
Selain olahraga rutin, penting juga untuk tetap tidur tepat waktu. Pasti tidak sedikit di antara kita yang selama masa quarantine ini memiliki pola tidur terbalik, terlalu asyik menonton series drama Korea sampai subuh, atau contoh yang lainnya sering menjadi alasan kenapa jam tidur kita malah menjadi berantakan. Maka dari itu, penting sekali untuk tetap memiliki pola tidur yang teratur. Hal yang bisa kita lakukan di antaranya adalah mendisiplinkan diri untuk tetap tidur di jam – jam normal seperti jam 10 atau 11 malam, bisa juga sambil memasang alarm yang tersedia di gadget kita untuk menandakan jam tidur telah tiba. Kita juga bisa memulai membatasi penggunaan gadget terutama di jam-jam malam, supaya kita tidak tergoda membuka sosial media yang seringkali membuat kita lupa waktu lantaran terlalu asyik chatting atau membuka foto-foto di instagram atau media sosial lainnya.
Mendisiplinkan pola tidur ini juga bisa kita lakukan untuk mendisiplinkan kita untuk tetap bangun di pagi hari. Dengan tetap membiasakan diri untuk bangun pagi, tubuh pun akan jauh lebih sehat, sempat untuk berolahraga, dan jam-jam produktif kita pun semakin bertambah.

2. Jadwalkan Pekerjaan Kantor dan Rumah
Pict source : Google

Bagi seorang ibu yang bekerja, tentu ini tidaklah mudah untuk dilakukan di saat kita dituntut untuk tetap produktif mengurusi urusan domestik rumah dan pekerjaan di waktu yang bersamaan. Kita bisa mensiasatinya dengan cara menjadwalkan pekerjaan rumah dan kantor. Tentu akan lega sekali rasanya jika urusan rumah dan kantor bisa selesai dengan baik. Caranya kita bisa memulai mengagendakan pekerjaan rumah dan kantor dengan lebih terjadwal. Dengan membuat catatan-catatan kecil di sticky notes misalnya, atau menjadwalkan jam-jam produktif tersebut yang nantinya akan menjadi acuan kita dalam bekerja

3. Coba Memulai Berjualan Online
Pict source : Google

Di masa pandemi seperti ini, sebenarnya ada banyak potensi yang bisa digali, salah satunya adalah mulai berjualan online. Jadi, meski #dirumahaja kita bisa tetap produktif dan menghasilkan. Berjualan online ini pun bisa dimulai dari hal-hal yang kita senangi, misalnya berjualan makanan bagi yang senang memasak atau hobi makan sehingga tahu taste makanan – makanan enak. Atau kita juga bisa berjualan masker organik bagi yang hobinya skincare-an. Karena tidak dapat dipungkiri, meski #dirumahaja kulit juga tetap perlu dipenuhi kebutuhannya agar tetap terawat meski sedang di masa pandemi. Karena banyaknya yang sedang melakukan work from home kita juga bisa melihat potensi dan memanfaatkan peluang ini untuk mulai berjualan baju rumahan, hal ini dilakukan agar bisa tetap nyaman di rumah meski sambil bekerja. Semua potensi ini dapat kita lakukan secara online dengan memanfaatkan gadget dan koneksi internet tentunya. Dengan begitu, kita masih bisa tetap produktif di masa pandemi, bahkan bisa menjadi penghasilan sampingan juga lho.


4. Menanam Sendiri Sayuran di Pekarangan Rumah

Pict source : Google

Di masa pandemi seperti sekarang ini, kita juga wajib untuk mengkonsumsi makanan sehat dan vitamin guna menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Selain minum air yang cukup 2 liter atau sekitar 8 gelas perhari, mengkonsumsi buah dan sayur juga wajib dilakukan supaya kesehatan tetap terjaga, di samping mengkonsumsi vitamin dan suplement tubuh untuk menunjang kekebalan imun kita.
Hal ini menjadi menarik apabila kita mampu menanam sendiri sayuran atau buah-buahan yang kita butuhkan. Selain memiliki sisi ekonomisnya sendiri, hal ini pun bisa mendorong kita untuk lebih produktif selama #dirumahaja. Jika kita memiliki pekarangan yang cukup di rumah, kita bisa memulai menanam sayuran yang cukup cepat masa pertumbuhannya seperti kangkung, bayam, dan pakcoy dikarenakan tanaman ini sudah bisa kita panen beberapa minggu saja sejak penanaman pertama kali benihnya. Selain masa pertumbuhan yang cukup cepat, perawatan dalam merawat sayuran ini pun terbilang mudah, jadi untuk pemula seperti kita, cocok sekali untuk memulai bercocok tanam dan mencoba peruntungan kita di bidang cocok tanam ini.

Nah itu dia hal-hal yang tetap bisa dilakukan untuk tetap bisa produktif di masa pandemi seperti ini. Anjuran untuk tetap #stayathome atau work from home semoga tidak menjadi halangan ya untuk tetap produktif dan menjaga kesehatan tubuh. Semoga bermanfaat :)

Selasa, 03 Maret 2020

The Dearest

You have been gone 40 days ago, but still, the pain stays. 
Rasanya masih mau menyangkal kalau ini tidak benar-benar nyata
Rasanya masih mau menunggu, meski yg ditunggu tidak akan datang sambil ucap salam seperti biasa
Rasanya waktu berhenti, dan berjalan hanya di hari itu saja
Saat segala rasa paling tidak menyenangkan ramai-ramai menyusup ke dada
Rasanya, kupikir semua akan baik-baik saja
Hari-hari akan seperti biasa terlewati
Dua bulan kemarin, jiwa dan raga seolah dilatih paksa untuk membiasakan segalanya
Nyatanya, tidak akan ada kehilangan yg baik-baik saja
Seberapapun segalanya dipersiapkan
Rasa sakit itu ada
Entah kapan hilangnya
Atau mungkin tidak akan
Berair mata tiba-tiba kini menjadi biasa
Tidur dalam keadaan hati yang berat, dan terbangun dengan mata sembap, kini biasa
Ibu, Desi masih berusaha
Sampai hari ini
Bukan untuk menghilangkan, tapi untuk membiasakan segalanya yang tanpa Ibu
Everything seems rough here since to see and touch you become impossible, but i'm gonna through this surely
I love you and i'm really sorry for all of my mistakes.

Maaf untuk banyak waktu yang belum sempat kita habiskan berdua
Now i realized, i really need you



Sincerely,
Your dearest daughter.

Minggu, 16 Juni 2019

Review SOME BY MI AHA BHA PHA 30 Days Miracle Toner


Pada tulisan pertama saya tentang beauty review ini, saya ingin memberikan hasil review selama kurang lebih 1 bulan ini menggunakan Some by Mi 30 Days Miracle Toner. Banyak dari para beauty enthusiasts memakai produk ini karena klaim dari toner ini yang tidak hanya mampu mengecilkan pori-pori dan menghaluskan kulit wajah, katanya, toner ini pun ampuh untuk memperbaiki tekstur wajah. Wow.
Saya membeli toner ini di Shopee seharga 133rb. Terhitung sejak 6 Mei 2019 lalu saya menggunakan produk ini hingga sekarang. Oh ya, sebelum membeli full size-nya di Shopee, saya membeli ukuran travel size-nya terlebih dahulu, untuk tau apakah produk ini cocok di kulit saya. Setelah si travel size habis dan tidak ada reaksi alergi apapun di kulit saya, saya langusng membeli full size-nya tsb di Shopee.
Sejujurnya, produk ini adalah skincare Korea pertama bagi saya. Sebelumnya, saya belum pernah memakai produk Korea apapun terlebih lagi untuk skincare karena skincare saya lebih banyak didominasi dengan produk-produk dari Wardah )
Toner ini cair seperti air dan sedikit beraroma semacam aroma obat atau semacam tea tree. Warnanya pun bening seperti air. Saya biasanya menggunakan di pagi hari dan malam hari sebelum tidur menggunakan kapas.
Tampak depan kemasan toner Some by Mi

Tampak belakang. Sejujurnya, ga tau arti tulisannya apa T.T


Yang saya rasakan setelah 1 bulan menggunakan toner ini adalah tekstur kulit saya semakin kesini semakin membaik, memang tidak ada bekas jerawat yang sampai berlubang di kulit, tapi banyak terdapat bekas jerawat (flek hitam) dan bruntusan kecil di kulit saya, dan pori-pori saya terutama di sekitar pipi dekat hidung yang sebelumnya besar-besar sekarang terlihat mengecil dan kulit saya pun tidak se-berminyak biasanya sebelum saya menggunakan toner ini. Untuk klaim bahwa produk ini dapat memperbaiki tekstur kulit, di kulit saya sendiri yg notabene memang teksturnya alhamdulillah baik-baik saja. Mungkin teman-teman yang memiliki tekstur kulit tidak merata seperti bekas jerawat atau scars bisa mencobanya untuk membuktikan apakah Some by Mi ini benar-benar apuh untuk memperbaiki tekstur kulit.
Produk yang terdapat di kemasannya pun cukup banyak, saya kira dalam satu botol tsb hanya cukup untuk 30 hari, tapi ternyata lebih dari itu. Saya sudah menggunakan toner ini selama 30 hari lebih dan produk yang terdapat dalam botol masih tersisa ¾ nya. Mungkin bisa digunakan selama kurang lebih 1,5 bulan :)

Seharusnya ada foto kulit sebelum dan sesudah aku memakai toner ini, supaya temen-temen bisa lihat juga perubahannya, tapi sayangnya saya ga punya. Jadi saya hanya kasih perbandingan 2 foto selfie saya, yang saya ambil saat sebelum dan sesudah saya menggunakan toner ini. Selfie yg diambil saat kondisi saya menggunakan make up, tapi semoga tetep kelihatan ya perbedaannya dan bisa membantu temen-temen juga yang masih galau mau coba toner ini

Sebelum menggunakan toner Some by Mi

Setelah 30 hari pemakaian toner Some by Mi


Conclusion:
+ Menghaluskan kulit
+ Mengecilkan pori-pori, terutama di sekitar pipi dekat hidung
+ Mencerahkan warna kulit
+ Menyamarkan noda bekas jerawat

- setelah beberapa lama pemakaian, di bebarapa bagian kulit kadang terasa kering, terutama di bagian lipatan hidung.

Sekian review Some by Mi 30 Days Miracle Toner dari saya. Selamat mecoba juga, teman-teman :)

Rabu, 08 Mei 2019

Goblin

Untuk yg pernah kupanggil Goblin

Malam ini dan malam-malam sebelumnya, sepertinya aku sedang rindu. Entah kenapa, kepalaku sibuk memutar memori tentang hari-hari lalu yg banyak diisi denganmu.

Hei Goblinku, i hope you well, wherever you are.
Aku hanya mau bilang, maaf, banyak terima kasih yg belum sempat aku sampaikan.
Prihal kebaikan hatimu
Prihal hadirmu yg selalu ada
Prihal telingamu yg selalu siap mendengar
Prihal sabarmu yg batasnya sangat luas

Dear Goblin,
Hari-hariku pernah begitu nyaman, karena aku tau ada orang yg selalu siap sedia menjagaku
Kamu ingat di siang itu, saat pertama kalinya aku menangis dan menceritakan segala ketakutanku, kamu orang yg pertama ada. Penjagaanmu yg pertama kali menghampiri dan memastikan semuanya akan baik-baik saja.
Dear Goblin,
Kamu ingat di sore itu di tengah hujan deras, aku tengah menahan tangis yg rasanya mau meledak di dada, tanpa sengaja atau konspirasi semesta, kamu ada dan rela menampung segala kesalku, meredakan amarahku.
Dear Goblin,
Kamu ingat di sore hari lainnya, di bulan Ramadan, seperti saat ini, kamu menungguku di stasiun karna aku pundung, kamu lupa janji menemaniku makan Ayam Gepuk Pak Gembus. Lantas kamu berjanji mentraktir bakso, sesuai keinginanku, lalu sepanjang malam kita hanya jalan-jalan sekitaran One Bell Park saja dan berujung pada nasi goreng di depan gang rumahku.
Dear Goblin,
Kamu ingat di pagi hari itu, saat aku tengah resah-resahnyanya menyelesaikan kewajiban skripsi, kamu pernah berjanji mengajakku naik kereta gantung di Taman Mini, kalau2 skripsiku rampung kuselesaikan :)

Dear Goblinku,
Maaf, karena aku tak mampu menjadi pendengar yg baik saat kamu benar2 butuh telinga untuk mendengar kesedihanmu.
Dear Goblinku,
Maaf, karena aku tak mampu hadir di saat-saat terburukmu saat itu :(
Terima kasih sudah menenangkanku, "lo selalu punya gue" darimu adalah hal yg ingin selalu kuingat. Bahwa aku pernah dijaga sebegitu tulusnya, bahwa hari-hari yg aku punya pernah begitu aman dan nyaman.
Hari ini, aku hanya rindu
Rindu ketulusan hati dari orang yang menurutku paling baik sedunia. Hanya itu saja
Goblinku yg dulu pernah ikut2an nonton drama Korea Goblin, karena aku sibuk menceritakan drama itu setiap hari.

Goblinku yg baik hati
Tau bahwa kamu baik-baik saja, sudah cukup.
Tau bahwa senyummu masih dengan simpul yg sama, sudah cukup.
Aku tau, segala kebersamaan kita dulu memang tidak akan lagi bisa terulang.
Terima kasih sudah mengajarkanku untuk memiliki hati yg baik
"Tidak ada yang sia-sia" katamu
Semoga bahagia senantiasa meliputi hari-harimu.
Terima kasih atas ketulusan berteman denganku.

source: pinterest


Dari aku.

Senin, 30 April 2018

Museum Tour to Museum Nasional


Well, museum tour ini sebenernya adalah ide random saya dan teman saya hari Minggu kemarin pas lagi nge-Thai Tea bareng sambil kecapean habis lari di CFD. Saya dan teman saya ini punya ketertarikan yang sama sama hal-hal yang berbau sejarah dan masa lalu #okeskip. Terus tiba-tiba aja teman saya yang kemudian sebut aja namanya Rina, ngajak saya ikutan City Tour bareng jktgoodguide, tapi setelah liat jadwalnya, ternyata hari itu jktgoodguide hanya ada di jam 3 sore which is kita harus nunggu sekitar 4 jam buat ikutan tour-nya. Karena mikir dari pada kelamaan nunggu, si Rina ngajak saya ke Museum Nasional setelah melewati perdebatan-perdebatan sengit kira-kira museum mana yang kira-kira mudah dijangkau dari posisi kita yang lagi ada di daerah Sudirman.

Ceritanya udah sampe kan nih kita di Museum Nasional, tapi ternyata sebagian museum masih dalam tahap renovasi. Menurut Mba yang di museumnya bilang tahap renovasinya selesai sekitar bulan Mei nanti. Tapi kita tetep bisa masuk ke museum ke yang bagian sebelahnya lagi, dari pintu masuk ke arah kanan. Untuk biaya masuk museum ini cukup dengan 5 ribu rupiah aja dan kita bebas jelajah museum disana sampe pegel. Kesan pertama yang saya tangkep dari museum ini sih bagus yah, pelayanannya oke, bersih, rapi, dan tata letaknya juga asik-asik aja (menurut saya yang jarang banget-banget jalan-jalan ke museum). Terus kebetulan banget nih hari itu juga lagi ada pementasan dari Teater Koma judulnya “Mangan Ora Mangan, Gempur!”. Jadi yaudah sekalian deh saya dan Rina nonton pementasannya juga. Pementasannya ada di jam 12.30 siang, dan saat itu saya sampai di museum jam 12 siang, jadi waktu 30 menit itu kita manfaatin untuk liat-liat di lantai 1. Di lantai 1 ini kalian akan lihat sejarah perkembangan manusia. Isinya mostly fosil-fosil dari manusia purba, hewan-hewan purba, dan barang-barang peningggalan manusia-manusia purba itu sendiri. Di tiap fosil-fosil tersebut ada keterangan dan penjelasannya dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan penjelasannya itu sangat jelas banget, ya mirip-miriplah sama apa yang diceritain di buku Sejarah pas SMP dulu. Hal paling menarik di lantai 1 nya sih adanya patung manusia purba dan gimana kehidupan mereka pada zaman tersebut yang saya lihat kayaknya cukup menarik perhatian pengunjung dan langsung refleks pada foto di depan patung tsb.
Foto ini yang paling iconic yang ada di lantai 1 museum.

Setelah lihat-lihat koleksi yang ada di lantai 1 sekitar 30 menitan, saya dan Rina lanjut nonton pementasan "Mangan Ora Mangan, Gempur!" dari Teater Koma. Pementasannya gratis, jadi kita cukup registrasi nama aja sebelum nonton. Pementasannya kira-kira sekitar 60 menit, dan selama pementasan saya pribadi terhibur karena casts-nya asik dan lucu, ceritanya juga jelas dan nggak bikin otak mikir ngejelimet gitu. Saya boleh ya certain sedikit isi cerita dari pementasan tersebut. Jadi, selama kurang lebih 60 menit, diceritain kalau pada waktu itu Sultan Agung dari Kota Gede Jogjakarta memiliki ambisi untuk menyebarkan wilayah kekuasaannya ke Batavia, yang saat itu wilayah Batavia masih dikuasai oleh Belanda di bawah kekuasaan VOC. Sultan Agung ini udah ngelakuin tahap negosiasi dengan pihak Belanda supaya Belanda mau ngelepasin Batavia, tapi sayangnya Belanda menolak. Sampai akhirnya pada tahun 1628-1629 Sultan Agung mengirim pasukan ke Batavia untuk ngerebut wilayah tersebut dari kekuasaan Belanda. Menariknya nih, meskipun Sultan Agung ngirimin pasukan yang jumlahnya banyak banget (jauh banget sama jumlah pasukan VOC) tapi tetep aja mereka kalah. Pertama kali Sultan Agung kirim pasukan (yang jumlahnya saya lupa) dengan ngelawan pasukan VOC yang jumlahnya hanya 3000 pasukan aja, lalu pasukan Sultan Agung ini kalah. Kedua kalinya, Sultan Agung kirimin lagi pasukan dengan jumlah yang lebih banyak, 25.000 pasukan dengan ngelawan pasukan VOC yang jumlahnya jauh lebih sedikit dan tetap aja dong pasukan ini kalah. Nah dari pementasan ini nih dijelasin fakta sejarah yang nggak kita dapetin di sekolah. Jadi dijelasin kenapa sih pasukan Sultan Agung kok kalah perang terus ngelawan Belanda padahal diliat dari jumlah pasukan yang sejujurnya timpang banget itu, harusnya bisa dengan mudah dong menang dan ngerebut Batavia. Kalo kita ngira kekalahan tersebut karena faktor senjata yang dipakai pasukan Belanda lebih canggih, NO, bukan itu jawabannya. Faktor yang bikin pasukan tersebut kalah terus adalah karena kelaparan. Kelaparan? Iya, kelaparan. Pasukan yang dikirim Sultan Agung dari Kota Gede di Jogja untuk ke Batavia butuh waktu sekitar 3 bulan dengan berjalan kaki dengan rute jalur Pantai Utara. Nah sayangnya, pasukan tersebut nggak dibekali dengan perbekalan yang cukup. Jadi ketika pasukan sampai di Batavia, rata-rata energi mereka udah terkuras habis selama perjalanan karena kelaparan, dengan begitu, pasukan Belanda yang walaupun jumlahnya lebih sedikit dari pasukan Sultan Agung, ya dengan mudah bisa menangin perangnya deh. gitu ceritanya. Ada juga dialog di pementasan tersebut yang saya inget, ceritanya ada anak “zaman now” yang nanya kenapa sih pahlawan tuh selalu digambarin sebagai sosok yang gagah dan tangguh tapi kalah perang terus dan ngapain juga sih kita tuh mesti belajar sejarah. Dijawab sama cast yang satunya kalau belajar sejarah itu bukan hanya untuk mengelu-elukan pahlawannya, tapi untuk mengetahui gimana sih sebenernya keadaan dan kondisi yang sesungguhnya saat itu, dan gimana masyarakat saat itu menyikapinya. Kalau pertanyaan kenapa pahlawan kalah perang terus, udah dijawab dari pementasan tersebut salah satunya karena kondisi prajurit perang yang saat itu nggak mendapatkan perbekalan yang cukup sehingga kelaparan, karena prinsip raja saat itu dalam berperang adalah “Mangan Ora Mangan, Gempur!”, ternyata gitu intinya kenapa judulnya juga serupa sama pesan dari cerita pementasannya.
Cerita soal pementasan teaternya udah selesai nih, selanjutnya kita bisa ikutan Jelajah Museum  dan ada guide-nya. Sebelum Jelajah Mueumnya dimulai, guide-nya ngejelasin kalau kita bakal jelajah ke lt.4 museum. Guide-nya ini ramah banget dan murah senyum, tapi saya lupa nama Mba guide-nya siapa ( nah sebelum naik ke lantai 4, kita diingetin kalau selama di lantai tersebut ngga dibolehin sama sekali untuk ambil dokumentasi dalam bentuk apapun baik foto maupun video. Tapi saya agak kecewa gitu sih karena masih ada aja pengunjung yang nggak disiplin karena dia ambil gambar dan video di lantai 4, akhirnya ditegur deh sama penjaga di lantai 4 itu (jangan dicontoh ya guys) :(( nah di lantai 4 itu sebenernya isinya barang-barang peninggalan raja kayak mahkota, perhiasan, keris, tombak, dll. Disitu Mba guide-nya ngejelasin satu persatu barang peninggalan tersebut, walaupun nggak semuanya karena banyak banget guys. Sisanya kita boleh eksplor sendiri lihat-lihat koleksinya dan ada penjelasaanya kok di tiap2 benda tersebut, tapi harus tetep disiplin dan ikutin aturan museumnya ya untuk ga ambil dokumentasi dalam bentuk apapun.

Karena kemarin kondisinya saya dan Rina kecapean banget abis lari, jadi kita ga bisa eksplor semua apa aja koleksi Museum Nasional di tiap lantainya. Setelah dari lantai 4 tersebut kita cus pulang. Tapi kita happy banget karena selain kita yang emang cinta banget sama hal-hal masa lalu, museumnya juga kece banget dan nggak nimbulin kesan yang ngebosenin kayak museum-museum pada umumnya. Cuma sayang aja karena sebagian museum masih tahap renovasi jadi kita nggak bisa eksplor lebih banyak deh, padahal menurut Rina bagian yang direnovasi itu justru bagian yang banyak hal-hal menariknya. Semoga renovasinya bisa cepet rampung dan ya, surely I’ll be back to Munas. Hehe
Ini tembok yg iconic banget juga di lantai 4
Disini masih dibolehin untuk ambil gambar, tapi ketika masuk ke dalem, udah ngga boleh ya.


30 April 2018