Terkadang saya berpikir, betapa menyenangkannya memiliki seseorang yang saling menguatkan. Betapa menyenangkannya hidup jika di kala kita tengah berada pada titik jenuh paling rapuh, lantas ada dia sosok yang menawarkan ketenangan, bahkan sekadar untuk bermanja rebah di bahunya. Kadang saya berpikir, betapa indahnya hidup jika berdampingan dengan orang-orang yang disayang. Saya kerap memikirkan, hal-hal baik yang ditularkan oleh orang-orang yang baik pula.
Tapi bukan hidup kan namanya kalau kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Butuh perjuangan dan proses yang tingkat kesulitannya berbeda di setiap orang. Lantas yang bisa dilakukan hanyalah menambah kuat dan bersabar. Karena hanya itu pilihannya.
Menyenangkan berada di dekat orang-orang yang membuat nyaman. Sejauh ini, saya bersyukur, karena Dia senantiasa mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Ada kalanya saya sedih sendiri, ingin sekali meluapkan kesedihan tapi entah dengan cara apa, ingin sekali dikuatkan oleh ia yang memberi nyaman. Tapi pilihannya hanya satu, memperbesar kuat dan memperbanyak sabar. Kelak, pelukan-pelukan panjang itu kan datang. Kasih dari seseorang lewat hangatnya pelukan-pelukan yang paling hangat.
Karena sendiri itu kuat, berdua itu saling menguatkan.
4 Mei 2016
(Sedang dipusingkan dengan UTS dan KKN)
Rabu, 04 Mei 2016
Sendiri Itu Kuat, Berdua Itu Saling Menguatkan
Kamis, 28 April 2016
Perihal Kehilangan
PERIHAL KEHILANGAN
Hilang. Ataupun Kehilangan. Saat usia saya masih 10 tahun saya pernah kehilangan, satu tempat pensil berbentuk anjing kesayangan yang berisi pensil, penghapus pun pulpen serta segala isinya. Tentu karena keteledoran saya, maletakkan dan membiarkannya di sembarang tempat. Tentu selang beberapa hari saya sudah menggantinya dengan tempat pensil yang baru. Rupanya kesedihan saya lantaran kehilangan tempat pensil kesayangan hanya selang beberapa hari, setelah saya mendapat tempat pensil yang baru pemberian Ayah saya, nyatanya saya dengan mudah melupakan si Tempat Pensil Berbentuk Anjing itu.
Selang 8 tahun, saya kembali..merasakan kehilangan. Kehilangan yang sama. Perginya sesuatu yang telah lama menemani dan terlanjur menjadi kesayangan. Tapi bukan lagi tempat pensil ; berbentuk anjing, kucing, kambing, atau bahkan cacing. Saya kehilangan seseorang. Bukan hanya seseorang, saya pun kehilangan rasa, asa, entah apa lagi yang belum kelar saya sadari semua. Bukan seperti saya melupakan si Tempat Pensil berbentuk Anjing kala usia saya 10 tahun, saya kesulitan untuk melupakan seseorang yang telah pergi. Atau, seseorang yang telah memilih pergi. Saya begitu bodoh dalam hal melupakan seseorang itu. Dengan jarak yang sekian jauhnya pun dia yang tak lagi terdengar suaranya, seharusnya saya dapat dengan mudah melupakan. Seharusnya. Seseorang itu bukanlah tempat pensil yang dapat dengan mudah diganti dengan tempat yang baru saat tempat pensil yang lama hilang. Pun kenangan di dalamnya bukan batang pensil, penghapus dan pulpen yang dapat dengan mudah dibelikan oleh Ayah saya. Bukan.
Makna ‘Kehilangan’ kala saya berusia 10 tahun dengan saya berusia 18 tahun kini, sungguh sangat jauh berbeda. Terlalu rumit, telalu sulit. Saat usia saya 10 tahun, saya begitu mudah menghilangkan. Dan kini, saat 18 tahun usia saya, saya begitu mudah kehilangan. Kata ‘Hilang’ tak lagi sederhana di kepala saya. Bukan lagi tentang tempat pensil berbentuk anjing berwarna oranye. Melainkan seseorang, yang tak ingin saya sebutkan namanya.
Saya kehilangan, entah sesuatu atau seseorang, yang pernah sebegitu saya perjuangkan. Saya tidak lagi meletakkannya sembarangan karena keteledoran saya seperti saat saya berusia 10 tahun, melainkan saya letakkan seseorang itu di tempat yang barang kali tak dapat dengan mudah terjamah orang lain. Di tempat dimana saya mengira disanalah seseorang itu akan tinggal. Tetapi nyatanya, seseorang itu menutup kembali pintu yang telah ia buka. Berbalik arah lalu melangkah pergi. Saya yang berdiri di ambang pintu itu, hanya dapat melihat punggungnya yang bidang, tempat saya bersandar kala hati tengah tak menentu, menjauh dari tempat saya berdiri. Saya bodoh. Seharusnya saya menarik tangannya dan memaksanya kembali. Tapi saya memilih diam, memanggilnya dalam tangisan. Karena kekuatan paling tangguh ada saat kita mampu menahan diri dari menahan perginya seseorang. Begitu katanya.
Dan saya begitu kehilangan. Saat hari-hari tak lagi sama. Saat saya harus menata kembali dan membuang segala hal yang telah pergi meninggalkan. Awalnya saya pikir, saya kehilangan, seorang diri. Tapi nyatanya, kamu pun merasakan kehilangan yang sama. Saya kehilangan seseorang yang saya cintai. Sedang kamu, kehilangan cinta yang teramat besar yang telah kamu paksa menggugurkan diri sebelum sempat berbunga.
5 Februari 2013
(Ditulis 3 tahun lalu, saat sedang hangat-hangatnya merasakan patah hati)
Rabu, 27 April 2016
Cerita Minggu-Minggu Penuh Perjuangan
Cerita Minggu-Minggu Penuh Perjuangan
Belakangan ini, atau lebih tepatnya dua minggu ke belakang, saya dihadapi dengan situasi-situasi yang sedikit menguras energi pun emosi. Batin saya sebagai perempuan, kerap mengekspresikannya dengan tangisan. Sendiri, ataupun di hadapan keluarga dan teman.
Saya merasa Allah sedang sayang-sayangnya dengan saya, sedang memberikan perhatiannnya dengan penuh ke arah saya. Allah begitu baik. Saya senang berprasangka baik kepadaNya.
Kalau boleh digambarkan, saya seperti dihadapkan kepada batuan besar di hadapan saya, pun di atas pundak saya. Berat. Membuat lelah. Ingin menangis. Tapi tidak ada pilihan lain selain terus berjalan ke depan. Minggu-minggu terberat yang cukup membuat mata saya sedikit panas dan membangkak pada pagi harinya karena terlalu banyak atau terlalu lama menangis. Ah, cengeng. Iya, tapi adakalanya diri juga merasa lelah dan ingin menumpahkan segala isi kepala.
Berada di bawah tekanan yang mengharuskan saya ini dan itu. Terjebak dalam situasi sulit, kesulitan yang sulit yang mengharuskan saya harus tetap bersabar dan sabar. Karena hanya itu pilihan yang saya miliki. Ketika sehabs solat dan berdoa, hanya tangis yang mampu saya keluarkan tanpa kata-kata, terlalu sesaknya dada saya, sambil menutup mata dengan mukena saya bayangkan ada Allah di hadapan yang senantiasa memeluk. Tanpa kata pun, saya yakin Allah mengerti. Allah Maha Mengerti.
Dihadapkan oleh situasi sulit, mungkin ini bagian dari perjalanan hidup saya di usia 21 yang bisa dikatakan sudah dewasa. Allah ingin menggembleng saya supaya tidak lagi cengeng, tidak lagi mudah menangis. Wait, tidak ada yang salah dengan mudah menangis, itu tanda bahwa hatimu masih bekerja dengan baik, bahwa hatimu dimiliki oleh pribadi penuh simpati pun empati. Tidak ada yang salah, hanya harus diseleksi dan diberi pengarahan tentang tempat untuk menangis yang baik. Panjangkan durasi berdoamu, menangislah sekencang-kencangnya dalam sujud. Bahwasanya pendengar yang baik itu ada begitu dekat denganmu, relakamu temui tiap waktu siang dan malam, yang tidak akan mengkhianatimu di belakang, atau membocorkan rahasiamu kepada yang lain. Dialah Yang Sang Maha. Dialah pendengar yang baik. Saya sedang dan masih terus berusaha menikmati tiap-tiap episode pun fase-fase kehidupan yang tak indah. Karena begitulah seharusnya hidup. Perlu adanya sedikit tangis, agar saat kamu bahagia, kamu tidak lupa, bagaimana pedihnya rasa sakit.
Setidaknya dalam kesedihan dan situasi tidak menenakkan tersebut, saya masih punya tempat untuk saya berkeluh kesah. Terima kasih, yaa Allah. Semoga cinta saya terus seperti ini sampai akhir, terus membumbung tinggi menembus langit.
27 April 2016
(seharusnya ngerjain soal UTS, tapi malah nulis blog ( )
.