Tampilkan postingan dengan label pict source: weheartit.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pict source: weheartit.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

Hujan yg Ditelan Pagi

Saya ingin menyebutmu sebagai malam, tapi saya takut pagi cemburu. Saya tak dapat pungkiri, gelap dan dinginmu justru menghangatkan.
Saya ingin menyebutmu sebagai musim semi, tapi saya takut hujan cemburu. Saya tak dapat pungkiri, hembus napasmu ialah angin segar yg saya rindukan.
Saya ingin menyebutmu sebagai hitam, tapi saya takut putih pun cemburu. Legam dirimu cerah sempurna di mata saya.
Saya ingin menyebutmu sungai, tapi saya takut samudera cemburu. Sederhanamu mencukupiku.
Saya ingin menyebutmu bintang, tapi saya takut mentari cemburu.
Saya ingin menyebutmu rumah. Tapi kamu tidak semampu itu melindungi dari rintik hujan.
Saya ingin pulang pada pelukmu. Tapi ia tidak lagi sehangat itu untuk kutinggali.
Segalanya semakin kelabu
Entah berapa lama pagi yang saya nantikan tak kunjung datang.
Mentari yg saya tunggu tak jua tiba.
Lalu saya mulai terbiasa dengan gemuruh hujan.
Riuh dan dinginnya, nyatanya menenangkan.
Perasaan dingin yg ditimbulkan, nyatanya mengantarkan saya pada perasaan damai.
Lalu saya terbiasa.
Lalu saya menjatuhkan hati saya pada hujan. Yg setia menyembunyikan mendung saya. Yg tidak dapat dilakukan pagi.
Lalu saya terbiasa.
Lalu saya mencintaimu hujan.
Lalu pagi kembali.
Merenggut hujan yg terlanjur sudah saya cintai.
Menghilangkannya dari pandangan saya.
Menawarkan hangat yg tidak lagi ingin saya rasakan.
Menyuguhkan berkas sinar yg bahkan saya pun lupa kapan terakhir kali saya melihatnya.
Saya merindukan hujan.
Pagi yg datang sudah tidak lagi saya nantikan.
Pagi yang datang terlalu lama.
Lalu pagi memaksa saya mencintainya seperti pada awal cerita.
Saya jelas tidak bisa. Dan tidak ingin.
Pagi yg justru membuat saya terbiasa akan adanya hujan.
Saya hanya merindukan hujan sekarang.
Tidak ada lagi pagi.
Kemudian pagi menangis.
Tepat di hadapan saya.
Ada perasaan getir dalam dada, kala melihat air mata yg tidak seharusnya saya saksikan.
Pagi memeluk tubuh saya.
Memohon saya kembali pada kecintaan pagi saya terdahulu.
"Saya tidak bisa", kata saya.
Kamu sudah pergi terlalu jauh. Dan saya menemukan kenyamanan saya disini.
Pada dia yg menurutmu tidak menarik, gelap, suram, dingin, gaduh.
Nyatanya gelap, suram, dingin, dan gaduh itulah yg kemudian menenangkan saya. Menerima saya seperti apa adanya saya.
Barangkali yg kamu sebut gelap itu adalah cahaya. Dan barangkali cahaya dalam tubuhmulah senyata-nyatanya gelap.
Lalu saya melepaskan pelukannya.
Pagi masih terisak.
Masih menggenggam tangan saya.
Saya mencoba melepasnya. Lembut dan hati-hati.
Seberapapun pagi pernah melukai hati saya sebegitu kacaunya, saya tetap tidak ingin melukainya dengan cara yg sama saat pagi melukai saya dulu.
Pagi masih terisak.
Tapi saya tidak ingin menghapus air matanya. Saya biarkan ia melakukannya sendiri, sama seperti apa yg pagi lakukan dulu.
Saya memalingkan pandangan.
Hati saya masih penuh diliputi oleh hujan.
Tujuan saya hanya satu, menemukan hujan dan merebahkan lelah dalam peluknya.
Saya rindu suara gemuruh yg ditimbulkan.
Saya rindu perasaan gigil hingga menembus tulang.
Saya rindu hujan.
Saya hanya ingin pulang.

24 Januari 2017

Selasa, 07 Juni 2016

Untuk Abang

Ditulis pada: 6 Juni 2016
Kepada: 1 Juni 2016

Abang, tau kah? Hari itu menjadi hari favorit saya sepanjang sejarah. Belum pernah saya pergi ke kampus se-semangat itu. Membawa senyum merekah dari rumah yang tidak lepasnya dari wajah. Walau hanya mendapat jatah tidur 3 jam, walau kelelahan oleh setumpuk kegiatan yang saya jalani sehari sebelumnya, walau jam 10 pagi saya kedinginan di ruang kelas di tengah-tengah jam kuliah karna masuk angin, huf, tidak masalah, saya harus tetap sehat, setidaknya terlihat sehat, di depanmu, Abang.
Abang, tau kah? Sesekali saya gelisah, takut-takut kalau ada penampilan di diri saya yang tidak kamu suka, atau terlihat aneh di matamu, berkali-kali saya bertanya pada teman, meminta mengoreksi pakaian saya, atau lipstik saya yang belepotan. Dan sedih sekali karena saya duduk sembarangan, dan baju putih saya terkena coklat :( abang tau itu, dan saya suka respon kamu.
Abang, tau kah? Saat akhirnya saya lihat lagi kamu, tepat di hadapan saya, ada berjuta kelu yang tak mampu saya ucapkan. Ingin sekali berubah menjadi anak kecil yang loncat kegirangan usai diberi permen. Bukan, abang bukan permen. Abang itu.....
Abang, tau kah? Hari itu menjadi hari yang ingin saya ulangi, berkali-kali. Entah ke Mars mana yang Abang maksud, saya nyaman berada dekat dengan kamu. Entah berapa Alf*mart yang akan kita bangun di Mars tersebut, saya merasa cukup dengan hadirnya abang di hari itu.
Abang, maaf, karena saya tidak menyenangkan, karena saya tidak tahu banyak tentang film, karena saya malah tertidur dan membiarkan Abang menonton sendirian, karena saya tidak menghabiskan makan siang. Maskernya masih saya simpan, buat nanti kalau kita tamasya ke Mars lagi :)
Abang tau kah? Berkali-kali saya mengutuki diri saya sendiri setelah pertemuan tersebut. Menyesali kebodohan saya, keteledoran saya, ke-absurd-an saya yang sempatnya tertidur. Saya selalu ingin memberikan yang terbaik, walau hasilnya masih jauh dari kata baik. Abang bilang tidak masalah, tapi tau kah abang kalau penyesalan saya sulit hilang, saya butuh ditenangkan sekali lagi.
Entah sejak kapan Abang, segala yang ada di dirimu begitu menarik untuk diamati. Segala yang melekat, menjadi begitu penting untuk saya kenali. Entah sejak kapan, saya berhenti mencari, menyadari potongan yang hilang itu telah ditemukan. Entah sejak kapan, yang saya tau, saya bahagia, mendengarkan cerita dan berada di dekat Abang. It is like...yeayyyy I just found my missing pieces. Gitu, Abang.
Saya mau, Abang jangan pergi. Tapi saya tidak akan memaksa. May we find each other soon, and see you in our Mars.