Senin, 10 Juli 2017

Menjadi Dewasa


Menjadi dewasa itu menyenangkan, tapi sulit dijalanin.
Tiba-tiba aja kalimat ini muncul di kepala saya, sesaat setelah teman sekolah saya bilang "sebenernya gua pengen banget ngumpul-ngumpul. Aseli. Udah lama ga ketemu sambil ngumpul-ngumpul gitu jadi kangen juga ya." Terus teman saya yg satunya jawab "iya ya ih kangen juga ngumpul-ngumpul. Tapi ya gimana, besok kerja."
Ada juga kalimat lain, kayak gini "eh gua capek banget dah, masa seminggu ini gua kerja ga ngambil libur sama sekali." Sambil minta dipijitin sama temen di sebelahnya.
Dua percakapan di atas adalah teman-teman SMA saya dimana pada zaman dahulu kala, duluuuu bangetttt sampe lupa kapan, kita sering banget "kongkow-kongkow unyu". Kalau masih SMA dulu, kongkow bisa dilakukan kapan aja semau kita, sampai tengah malem bahkan, ketawa-ketiwi sambil makanin cemilan yg alakadarnya, tapi bahagia. Tapi, setelah kami menyandang status "mahasiswa", aktivitas kongkow tersebut hanya bisa dilakukan saat weekend di sela-sela bayang-bayang deadline tugas yg seraya menghantui, atau kongkow sambil bawa tugas, bahkan.
Beberapa jam yg lalu, sepupu saya kirim whatsapp, nanyain kapan ada di rumah. Lalu percakapan tersebut berlanjut pada percakapan rencana-rencana yang kami buat beberapa waktu silam, halah, kesannya lama amat, beberapa bulan yg lalu maksudnya, akhirnya nggak ada yg kesampean karena saya yang sibuk *piiiip* (harus disensor agar supaya) kemarin-kemarin, sekarang giliran saya udah punya waktu luang lebih, gantian sepupu saya yang nggak punya waktu karena udah bekerja. Akhirnya whatsapp tersebut berlanjut menjadi percakapan-percakapan mau makan nasi goreng pinggir jalan malem-malem yg ga kesampaian, mau makan seblak sekitaran kampus yg juga nggak kesampaian, mau ke tempat-tempat bagus buat foto yang lagi-lagi juga nggak kesampaian. Terus saya mendadak mellow..... yhaaaa :)))))
Dua kejadian di atas berlangsung satu hari ini, yang sama-sama mengingatkan saya bahwa ternyata waktu sudah sejauh ini, ternyata satu-persatu orang yang saya kenal sudah menjadi dewasa pada zona-nya sendiri-sendiri. Kenyataan pendewasaan yang ditandai dengan keluangan waktu yang semakin menipis, sibuk terisi untuk mengejar mimpi masing-masing. Oh jadi gini rasanya jadi dewasa :)
Menjadi dewasa itu menyenangkan, tapi sulit dijalanin. Ternyata kalimat tersebut benar adanya. Menjadi dewasa itu harus siap dengan batasan-batasan waktu yang posesif, harus siap mengenyampingkan ego demi kewajiban dan konsekuensi yang telah diambil.
Ternyata kita udah dewasa, saya udah dewasa.
Dewasa yang ditandai dengan prioritas-prioritas yang lebih diprioritaskan di atas keinginan untuk sekadar bersua dengan teman-teman lama. Semoga kita sampai pada dewasa kita masing-masing, menggapai mimpi yang telah lama dirangkai, agar ketika kembali, bukan hanya gitar usang ataupun camilan lapuk yang tersaji, mari menjadi dewasa, untuk kemudian menjadi cerita ketika luang tersebut tercipta kembali.

25 Mei 2017

Senin, 27 Maret 2017

#KKNBAHAGIA


It dedicated for the dearest, Al-Izza.

+Wah kompak banget ya geng KKN-nya.
+Ciyeee yang KKN-nya bahagia.
+Coba di kelompok gua ada manusia faedah juga kayak lu.
+Yaela, masih aja Des KKN.
+KKN? Apa itu KKN?
+KKN? KKN!

Kenapa #KKNBahagia? Sebenernya buat yang mau tau aja sih, pertama kali update status KKN Bahagia itu di BBM, waktu minggu pertama KKN dimulai. Untuk apa? Sebenernya tujuannya adalah untuk mensugesti diri saya sendiri yang saat itu memang sedang galau-galaunya (terpaksa) ikutan KKN. Dan kalau pernah denger “ucapan adalah doa”, saya rasa memang benar adanya. Kenapa? Karena kalimat KKN Bahagia awalnya saya pakai hanya untuk mensugesti diri sendiri yag saat itu sama sekali nggak ingin KKN, dan sekarang, kalimat yang merupakan sebuah doa tersebut terbukti, bahagia di KKN itu benar adanya.
Kalau ditanya kenapa saya sangat amat nggak ingin KKN saat itu, jawabannya standard aja, sebagai anak bungsu yang nggak pernah jauh dari orang tua, KKN menjadi beban tersendiri buat saya. Dan, “tak kenal maka tak sayang” juga benar adanya, KKN membuat saya menemukan keluarga baru dalam bentuk lain. Selain keluarga baru, KKN juga membuat saya yang nggak punya kampung halaman menjadi merasakan adanya tempat yang dirindukan untuk pulang, yang selanjutnya saya menyebut desa KKN saya sebagai kampung halaman.
Pada kesebelasan Al-Izza tersebut saya mengerti, bahwasanya rasa akan lebih bermakna tanpa campur tangan paksaan dari pihak-pihak luar. Dan pada desa tempat KKN saya tercinta, saya pun mengerti bahwasanya bahagia itu bisa diciptakan. Setulus-tulusnya rasa menyayangi yang saya rasakan dari orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan saya, berkumpul di desa tersebut. Semesta mengabulkan doa yang tanpa sengaja saya panjatkan, KKN bahagia yang saya harapkan bahkan lebih bahagia dari yang saya pikirkan.
Semoga lewat kata-kata yang saya buat ini, kenangan tersebut tidak menjadi hilang, justru kekal abadi kapan saja saya membacanya kembali, berulang, berulang, terus dibaca hingga ke generasi entah ke berapa. Bahwasanya saya pernah begitu bahagia berada di tengah-tengah mereka, menjadi bagian dari mereka, mengukir kenangan untuk nantinya dikenang di saat kulit kami mulai keriput, senyum kami tidak lagi menyunggingkan deretan gigi yang komplit, tapi bahagia itu pernah ada, rapi tersimpan dan tetap hidup dalam hati kami masing-masing.

27 Maret 2017

Rabu, 22 Maret 2017

Pengalaman Menjadi WBA (Wardah Beauty Agent)

Pengalaman Menjadi WBA (Wardah Beauty Agent)

+WBA itu apa sih kakak?
-WBA itu ya Wardah Beauty Agent, dek. Kan udah dijelasin tuh di judulnya.
+Iyah, Wardah Beauty Agent itu apa, kak? Kayak semacam agen Wardah gitu ya?
-Bukan, dek. Gimana ya jelasinnya…hm…
+Kayak ngejualin produknya Wardah gitu kan kak? Kakak agennya? Lebih murah dong kalo aku mau beli?
-Nggg……..

Sering banget saya dapet pertanyaan serupa kayak di atas saat ditanya tentang WBA. Untuk yang belum tau apa itu WBA, ya, benar sekali, WBA adalah singkatan dari Wardah Beauty Agent. Apa itu Wardah Beauty Agent? Kalau “Wardah”nya pasti udah pada tau dong ya, salah satu brand kosmetik ternama Indonesia yang tengah naik daun *tepuk tangan*. Lalu apa itu Wardah Beauty Agent?
Disini saya akan jelaskan apa itu Wardah Beauty Agent berdasarkan sepengetahuan saya, dengan gaya menyampaikan yang saya tuangkan dalam tulisan yang mungkin aja masih jauh dari sempurna. Kegiatan menulis ini masih dilakukan atas dasar kegabutan saya sembari menunggu jadwal bimbingan skripsi. Okesip.
Sebelumnya sekadar informasi tambahan bahwasanya WBA tersebar juga di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jogjakarta, Semarang, Medan, Pontianak, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini, saya hanya menyampaikan untuk WBA Jakarta saja karena kebetulan saya tergabung di dalamnya. Lalu apa sih WBA itu? WBA adalah wadah yang berisikan sekumpulan mahasiswi-mahasiswi dari universitas (baik itu universitas negri maupun swasta) yang difasilitasi oleh brand Wardah sebagai “brand ambassador” dalam lingkup kampus, atau bisa dibilang WBA sebagai Public Relation “cilik”nya Wardah. Tugas kami adalah me-Wardah-kan kampus-kampus yang berada di Jakarta dan sekitarnya dengan cara mengadakan kerjasama di event-event kampus tersebut. Bukan hanya itu aja, kami juga sering mengadakan beauty class atau pun demo make up yang kesemuanya tersebut difasilitasi oleh Wardah.
Jadi, anggapan kalau WBA ini “agen” Wardah itu bukan ya. Hehe salah pengertian. Bukan salah pengertian sih, tapi gimana ya jelasinnya….hm.

+Kak, kok bisa sih ikutan jadi WBA?
+Kak, caranya jadi WBA kayak Kakak gimana sih caranya? Aku mau deh, abis kayaknya seru gitu aku liat.
+Kak, kalau jadi WBA harus cantik-cantik gitu ya? Yah aku mah apa atuh kak.

Jadi perjalanan saya hingga akhirnya tergabung dalam WBA itu sebenarnya lumayan panjang. *kebiasaan lebay* semuanya bermula di semester tiga, saat zaman-zamannya predikat kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang masih amat melekat di diri saya. Di tengah kegalauan dan kegabutan saya saat itu, dimana aktivitas ngampus yang lebih banyak bengongnya karna jarang ada dosen dan jarang ada tugas, sampailah saya waktu itu yang nggak sengaja lihat ada “flyer” di papan informasi kampus, judulnya “One Day with Wardah”. Excited banget dong pastinya buat ikutan, secara di kampus saya saat itu masih langka banget acara serupa yang di-support penuh dari brand kecantikan. Seringnya sih saya ikutan seminar bareng temen-temen, itupun cuma numpang bobo kalau kelas kosong atau ngincer snack-nya aja. Hahaha. Nah, saya yang memang saat itu lagi centil-centilnya dandan pastinya langsung antusias banget pas tau ada acara tersebut. Langsung aja tuh saya sms untuk registrasi acara tersebut ke contact person-nya. Acaranya udah H-1, alias besok harinya. Besoknya, janjian sama temen juga, saya dateng dengan semangat 45, bahkan sebelum registrasinya dibuka. Acara One Day with Wardah waktu itu, seinget saya isinya talk show dari Tim Wardah (saya lupa siapa dan mengenai apa), ada demo make up juga yang kebetulan saya menjadi volunteer waktu itu (it means muka saya di make up-in sama “mbak-mbak” Wardah alias Beauty Advisor Wardah), ada games seru juga, dan disana mereka juga memperkenalkan WBA di hadapan peserta seminar yang hadir. Nah, dari acara One Day with Wardah itulah akhirnya saya tau ada yang namanya WBA (Wardah Beauty Agent), dan kebetulan lagi WBA ini sedang open recruitment untuk Batch 2. Untuk bisa ikutan oprec-nya waktu itu, kita cukup isi formulir yang udah disediakan sama kakak-kakak WBA yang menyelenggrakan One Day with Wardah tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah WBA Batch 1.
Itulah awal perjalanan saya tau dan mengenal WBA. Berawal dari kegabutan dan jiwa “banci seminar” akhirnya mengantarkan saya pada perjalanan menjadi mahasiwi yang agak lebih berfaedah ketimbang kuliah pulang-kuliah pulang. Hehe.
Untuk menjadi WBA ini, setelah mengisi formuir saat acara One Day with Wardah, selanjutnya ada tes tertulis juga dengan membawa cv saat tes berlangsung. Setelah tes tertulis tersebut lolos, selanjutnya ada tes wawancara yang diwawancara langsung oleh Wardah. Setelah tes wawancara tersebut lolos, nantinya akan ke tahap selanjutnya yaitu training. Tapi waktu oprec untuk Batch 2 waktu itu sayangnya saya belum berhasil, saya hanya mampu sampai tahap tes wawancara aja. Sedih sih, karna ga bisa bohong kalau saya berharap banyak bisa gabung di WBA ini karena saya seolah nemuin “Oh, ini lho yang gue suka. Ternyata jiwa gue disini.” Sempet galau beberapa hari karena ga berhasil lolos, tapi yaudah, denger dari kakak WBA Batch 1 yang lainnya kalo nanti akan ada oprec WBA lagi, seneng banget, seenggaknya saya bisa berjuang lagi disana, dan harus melakukan usaha yang terbaik.
Setelah menerima kegagalan tersebut, beberapa bulan kemudian ternyata ada lagi open recruitment WBA Batch 3. Saya yang jadi berteman baik dengan kakak WBA Batch 1, namanya kak Dina (orangnya baik dan ramah banget), bbm saya waktu itu kasih info WBA mau oprec lagi. Terus langsung seneng banget tuh dan dikasih tau kalau tesnya sekarang diadain di kantor Wardahnya langsung. Tes tertulis dan wawancara diadakan dalam satu hari. Wow, excited banget lah pokoknya. Intinya, di WBA itu ada 2 tahap tes, yang pertama tes tertulis (tes psikotes dan wawancara tertulis), serta wawancara lisan yang akan diwawancara langsung oleh pihak Wardahnya.

+Apa aja sih kak yang didapet selama jadi WBA?

Kalau ditanya apa aja yang saya dapat selama jadi WBA, kayaknya banyak banget deh. Contoh nyatanya adalah relasi, WBA ini terdiri dari mahasiswi-mahasiswi dari berbagai kampus di Jakarta dengan jurusan yang berbeda-beda, dengan begitu, nggak ngebatasin pergaulan saya yang sebelumnya cuma kenal teman sekelas aja, bahkan teman seangkatan pun ga mampu saya kenal semuanya ( so sad. Selain relasi sesama WBA, saya juga jadi punya relasi lainnya karena mengadakan kerjasama event yang disponsori oleh Wardah. Buat saya yang orangnya cenderung introvert, mengenal orang baru mungkin sulit, tapi di WBA ini saya seolah difasilitasi dan didorong untuk mampu bersosialisasi dan membangun relasi dengan orang luar. Jadi, nggak ada lagi deh tuh “kupu-kupu” alias kuliah pulang-kuliah pulang, semenjak jadi WBA saya seringnya kuliah rapat-kuliah rapat, atau kuliah nongkrong-kuliah nongkrong.
Selain punya banyak teman dan relasi, manfaat lain yang saya dapet adalah kemampuan public speaking. Bukan public speaking yang keren banget sih kayak expert-expert gitu sih, cuma setidaknya disini kalian akan dilatih bagaimana caranya berbicara di depan orang banyak. Dan ternyata, percayalah, public speaking ini penting banget, dan saya ngerasa beruntung bisa dapet ilmu public speaking gratisan dari Wardah. Dan sejujurnya ngelatih saya banget yang pemalu ini hingga akhirnya berani (walau tetap malu-malu kucing) bicara di depan umum.
Yang ketiga, karena Wardah ini adalah brand kosmetik, pastinya WBA mendapatkan training make up class. Dan lagi-lagi, ini berguna banget juga sih. Apalagi kalau emang buat kalian-kalian yang suka banget dandan, pasti bakal ngerasa surga banget lah dapet training make up class.
+segitu aja kak?
Pastinya banyak banget manfaat yang saya dapat selama jadi WBA, yang ngga mampu saya jabarkan satu persatu disini. Tiga poin di atas hanyalah sebagian kecil manfaat yang saya dapat dan saya rasakan sampai sekarang.  Dan sekarang, selama hampir dua tahun bergabung di WBA, akhirnya saya bisa merasakan sedikit rasanya jadi mahasiswi berfaedah kayak yang lain. Nggak lagi diisi sama kuliah pulang-kuliah pulang, jadi banci seminar yang cuma ngincer snack, dan cuma tau teman sekelas aja.
Pernah suatu hari, saya pernah bilang gini “kayaknya sia-sia banget deh gue kayak gini” (bukan, ini bukan tentang WBA, ini tentang hal lain yang selanjutnya bisa dipetik hikmahnya dari sini). Terus teman saya bilang “Nggak papa, nggak ada yang sia-sia di dunia ini”. nah dari pernyataan teman saya itu lah, selanjutnya saya percaya, bahwasanya segala episode kehidupan kita itu udah digariskan oleh Allah, tinggal kitanya aja nih yang bergerak, dan entah gerakannya maju ke depan atau pun mundur ke belakang, itu semuanya ada di tangan kamu. *sok bijak*
Mumpung masih muda, cari kegiatan dan pengalaman sebanyak-banyaknya, agar supaya pas lagi duduk samping-sampingan sama anak dan cucu nanti kita nggak mati gaya dan ada bahan obrolan berfaedah yang bisa diceritain ke mereka. Alhamdulillah. 😊

21 Maret 2017

Sabtu, 11 Maret 2017

Menjadi Cantiklah dengan Bijaksana

Menjadi Cantiklah dengan Bijaksana.

Pada tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk menggurui siapapun atau berusaha menjadi paling benar sendiri. Tulisan ini adalah murni pendapat saya pribadi, yang bisa jadi sama ataupun bisa jadi berbeda dengan kalian.
Siapa sih perempuan yang nggak mau dibilang cantik? Atau berusaha mempercantik diri? Semua perempuan pasti ingin menjadi cantik kok, karena memang sudah naluri mereka secara harfiah seperti itu. Lalu cantik yang bijaksana itu cantik yang seperti apa?
Saya menggunakan tag khusus: Menjadi cantiklah dengan bijaksana. Kenapa?
Selain semua perempuan yang memang sudah nalurinya ingin menjadi cantik, juga semua perempuan pasti memiliki definisi cantiknya sendiri-sendiri. Ada yang mengekspresikan cantiknya dengan memakai barang-barang yang mahal, atau memakai make up yang tebal, atau ada yang mendefinisikan cantik dengn polesan make up tipis (atau tidak mengenakan make up sama sekali), karena sebagian kaum ini menilai cantik itu datangnya dari hati.
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan masing-masing definisi tersebut. Karena memang, kembali lagi ke awal, bahwa setiap perempuan berhak mendefinisikan cantiknya sendiri-sendiri. Lalu seperti apa cantik yang bijaksana?
Sebelumnya saya mau cerita, cerita yang kemudian mengantarkan saya kepada cantik yang bijaksana. Bukan, bukan berarti dengan saya berbicara ini, lalu saya merasa menjadi perempuan paling cantik pun bijaksana di muka bumi. Tapi cerita ini kemudian yang mampu mendorong diri saya untuk bergerak memperbaiki diri. Saat usia saya sekitar 13 atau 14 tahun, saya pernah mendapatkan pernyataan yang menurut saya cukup menohok batin saya (sebagai perempuan). Usia saya memang masih sangat belia saat itu, masih duduk di bangku SMP, dan sebagai gadis muda belia yamg hanya tau bagaimana caranya mengerjakan PR dan menjawab soal-soal kuis dan ulangan dengan benar, saya tidak tau apa-apa tentang yang namanya cara merawat diri. Terlebih lagi, saya juga bukan perempuan yang dianugerahkan “cantik” dari lahir, hehehe.
Nah nah nah, di usia yang semuda itu, di tengah hari yang cerah ceria se-ceria suasana hati saya saat itu, saya tengah mengobrol sambil tertawa-tawa dengan sepupu-sepupu perempuan saya yang memang jumlahnya banyak. Entah candaan apa saat itu yang kita bicarakan hingga membuat saya tertawa terbahak-bahak, lalu salah satu di antara perempuan tersebut bilang “Jelek banget sih lo Des kayak *piiiiip* hahahaha”. Kata-katanya saya sensor sebagian ya karna satu dan lain hal. Yah, intinya perempuan tersebut menganggap saya jelek, even saat saya tengah tertawa. Momen dimana sebagian perempuan lain justru menjadi semakin cantik dan enak dilihat saat sedang tertawa dan menampilkan senyum yang lebar. Saya nggak marah, atau menunjukkan ekspresi tidak suka saya pada perempuan tersebut. Nggak. Itu nggak saya banget. Hehehe. Tapi dari kejadian tersebut sih jujur sukses banget menurunkan kadar percaya diri saya sampai ke titik paling rendah. Saya memang tidak cantik, tidak seperti stereotype cantik yang dipromosikan brand-brand kosmetik dan kecantiakan. Kulit saya gelap, wajah saya penuh jerawat, dengan deretan gigi yang nggak rapi alias berantakan kayak pemukiman padat penduduk, alis saya nggak tebal (oke, waktu itu alis tebal belum hits sih), rambut saya ikal bergelombang tebal banget yang lebih mirip kayak rambut singa. Dan saya menjadi sadar perbedaan saya dengan sepupu-sepupu perempuan saya yang rata-rata berkulit putih dan cantik dengan wajah mulus, gigi rapi, dan alis tebal. Saya jadi minder, malu, dan nggak suka sama diri saya sendiri.
Nggak nyangka kan dampak dari “celotehan” yang nggak sengaja kayak gitu sebenernya bisa berdampak besar banget buat perasaan seseorang. Saya lupa karena apa sampai saya bisa lupa dan kembali menjalani hari-hari masa remaja saya dengan normal lagi. Tapi intinya disini adalah cobalah mulai meyaring kata-kata yang kita putuskan untuk dilontarkan ke seseorang. Karena kita nggak pernah tau dampaknya ke orang tersebut seperti apa terlebih lagi kalau sudah menyangkut urusan fisik. Better cari bahan bercandaan lain, atau kalau nggak punya bahan candaan lebih baik diam. Lalu cantik yang bijaksana itu yang seperti apa?
Menurut saya nih ya, menurut saya yang merupakan bukan siapa-siapa, menurut saya yang hanyalah mahasiwi semeseter akhir yang tengah menunggu jadwal bimibingan skripsi, cantik itu nggak bisa dateng  cuma dari fisik aja, dimana kamu bisa poles muka kamu dengan make up setebal-tebalnya, atau cuma dari hati aja, dimana kamu ga butuh bedak, cc cream, pelembab, lip balm etc etc etc sama sekali dengan hanya mengandalkan kecantikan hati yang nggak semua orang bisa lihat. Cantik yang bijaksana itu ya, menurut saya, dimana kita bisa menyeimbangkan antara kecantikan dari luar, physically, yang bisa dilihat dengan mata orang lain, karena kita nggak bisa munafik bahwasanya orang luar (orang-orang yang baru dikenal, baru bertemu pertama kali atau beberapa kali) firstly akan memperhatikan tampilan fisik kita seperti apa sebagai first impression. Cantik itu bukan harus putih, langsing, tinggi, atau stereotype lain tentang perempuan cantik yang banyak ditawarkan produk-produk kecantikan. Cantik jasmani itu ya dimana tubuhb kalian tuh sehat, kulitnya sehat lembab (sekali lagi, ga harus putih), wajahnya juga terawat (it’s okay ada jerawat satu dua disana-sini), tapi over all, penampilan kalian itu enak dilihat untuk orang yang pertama kali kalian temuin, pakai make up is not a sin. Itu justru perlu, buat nyembunyiin kekurangan-kekuarangan yang ada di diri kalian. Kekurangan itu bukan justru dibenci, tapi dijadiin teman, dan make up tersebut bisa nyembunyiin kekurangan kalian sedikit kayak bekas-bekas jerawat atau flek hitam, alis yang tipis dan nggak berbentuk (kayak alis saya), etc etc etc. intinya, rawat fisik kalian karena cantik itu juga merupakan apa yang ditunjukkan dari segi fisik.
Cantik dari segi fisik itu nggak ada apa-apanya kalau nggak diimbangi dengan cantik dari hati. Karena, setelah orang mengenal kita dari “fisik”, kemudian mereka akan ingin mengenal kita secara pribadi. Disinilah “cantik dari hati” tersebut bekerja. Kecantikan fisik yang kalian punya akan nggak berarti apa-apa kalau hati kalian pun nggak cantik J hati yang cantik itu yang seperti apa? Simply yang nggak suka nyinyir sih, atau perbuatan-perbuatan tercela lainnya yang dirasa nggak perlu. Stereotype tentang hati yang baik dimana tidak ada kedengkian, rasa iri hati, perasaan sombong karena merasa dirinya paling cantik dan paling baik, atau berusaha agar terlihat paling baik. Menurut saya sih ya, inner beauty itu adalah seleksi alam, nggak perlu bersusah payah menunukkan jati diri “ini gue baik lho, ini gue paling baik hati lho, gue suka menolong, membantu, menabung, membantu ibu, beramal, berzakat” etc etc karena kebaikan hati itu ya akan terpancar dengan sendirinya. Don’t push yourself too hard, baby. Karena hati yang baik itu akan selalu terpancar tanpa perlu kita bersusah payah menunjukkannya.
Cantk yang bijaksana adalah perpaduan antara cantik secara fisik dan hati yang juga cantik secara berkesinambungan. Keduanya mesti berjalanan secara beriringan dan menjadi pelengkap serta penyempurna satu sama lain. Nggak bisa salah satunya berdiri sendiri tanpa didampingi. Maka menjadi cantiklah dengan bijaksana. Menjadi cantiklah tanpa diikuti dengan takabur. Bahwasanya menjadi cantik adalah hak setiap perempuan. Dan menjadi cantiklah dengan sederhana, menjadi cantiklah pada tempatnya.

11 Maret 2017

Selasa, 24 Januari 2017

Hujan yg Ditelan Pagi

Saya ingin menyebutmu sebagai malam, tapi saya takut pagi cemburu. Saya tak dapat pungkiri, gelap dan dinginmu justru menghangatkan.
Saya ingin menyebutmu sebagai musim semi, tapi saya takut hujan cemburu. Saya tak dapat pungkiri, hembus napasmu ialah angin segar yg saya rindukan.
Saya ingin menyebutmu sebagai hitam, tapi saya takut putih pun cemburu. Legam dirimu cerah sempurna di mata saya.
Saya ingin menyebutmu sungai, tapi saya takut samudera cemburu. Sederhanamu mencukupiku.
Saya ingin menyebutmu bintang, tapi saya takut mentari cemburu.
Saya ingin menyebutmu rumah. Tapi kamu tidak semampu itu melindungi dari rintik hujan.
Saya ingin pulang pada pelukmu. Tapi ia tidak lagi sehangat itu untuk kutinggali.
Segalanya semakin kelabu
Entah berapa lama pagi yang saya nantikan tak kunjung datang.
Mentari yg saya tunggu tak jua tiba.
Lalu saya mulai terbiasa dengan gemuruh hujan.
Riuh dan dinginnya, nyatanya menenangkan.
Perasaan dingin yg ditimbulkan, nyatanya mengantarkan saya pada perasaan damai.
Lalu saya terbiasa.
Lalu saya menjatuhkan hati saya pada hujan. Yg setia menyembunyikan mendung saya. Yg tidak dapat dilakukan pagi.
Lalu saya terbiasa.
Lalu saya mencintaimu hujan.
Lalu pagi kembali.
Merenggut hujan yg terlanjur sudah saya cintai.
Menghilangkannya dari pandangan saya.
Menawarkan hangat yg tidak lagi ingin saya rasakan.
Menyuguhkan berkas sinar yg bahkan saya pun lupa kapan terakhir kali saya melihatnya.
Saya merindukan hujan.
Pagi yg datang sudah tidak lagi saya nantikan.
Pagi yang datang terlalu lama.
Lalu pagi memaksa saya mencintainya seperti pada awal cerita.
Saya jelas tidak bisa. Dan tidak ingin.
Pagi yg justru membuat saya terbiasa akan adanya hujan.
Saya hanya merindukan hujan sekarang.
Tidak ada lagi pagi.
Kemudian pagi menangis.
Tepat di hadapan saya.
Ada perasaan getir dalam dada, kala melihat air mata yg tidak seharusnya saya saksikan.
Pagi memeluk tubuh saya.
Memohon saya kembali pada kecintaan pagi saya terdahulu.
"Saya tidak bisa", kata saya.
Kamu sudah pergi terlalu jauh. Dan saya menemukan kenyamanan saya disini.
Pada dia yg menurutmu tidak menarik, gelap, suram, dingin, gaduh.
Nyatanya gelap, suram, dingin, dan gaduh itulah yg kemudian menenangkan saya. Menerima saya seperti apa adanya saya.
Barangkali yg kamu sebut gelap itu adalah cahaya. Dan barangkali cahaya dalam tubuhmulah senyata-nyatanya gelap.
Lalu saya melepaskan pelukannya.
Pagi masih terisak.
Masih menggenggam tangan saya.
Saya mencoba melepasnya. Lembut dan hati-hati.
Seberapapun pagi pernah melukai hati saya sebegitu kacaunya, saya tetap tidak ingin melukainya dengan cara yg sama saat pagi melukai saya dulu.
Pagi masih terisak.
Tapi saya tidak ingin menghapus air matanya. Saya biarkan ia melakukannya sendiri, sama seperti apa yg pagi lakukan dulu.
Saya memalingkan pandangan.
Hati saya masih penuh diliputi oleh hujan.
Tujuan saya hanya satu, menemukan hujan dan merebahkan lelah dalam peluknya.
Saya rindu suara gemuruh yg ditimbulkan.
Saya rindu perasaan gigil hingga menembus tulang.
Saya rindu hujan.
Saya hanya ingin pulang.

24 Januari 2017

Selasa, 29 November 2016

Masih Saja Kamu


Setelah hampir 4 bulan berjalan, seharusnya sudah saya tanggalkan saja kenangan itu di tepi jalan. Dibiarkan tandas, basah terbasuh hujan.
Setelah lamanya tiada sapa, seharusnya kubiarkan saja semuanya kandas. Seharusnya tak kumanjakan hati ini yang ingin terus menerus mengenangmu.
Setelah beratus-ratus satuan waktu kulalui tanpa suaramu lagi, seharusnya kubiarkan saja, segelanya mengendap menjadi endapan yang lapuk di dasar hati.
Seharusnya, semudah itu.
Tapi hati saya masih saja menuju kamu, ke tempat entah kunamakan apa, ada kamu disana, tapi tak kamu persilahkanku masuk.
Tapi hati saya masih saja mengenangmu, sebagai bahagia yang pernah begitu kurasakan. Bahagia yang sungguh tak ingin kusebut hanya menjadi kenangan kini.
Tapi hati saya masih saja melihatmu, sebagai apa yang kuharapkan menjadi kekal nanti di hati.
Seharusnya, semudah itu.
Setelah berkali-kali ditawarkan dengan bahagia yang baru, hati saya masih saja kamu.
Setelah berkali-kali disambangi untuk menyembuhkan hati, dunia saya masih segalanya tentang kamu.
Lalu segalanya tidak semudah seharusnya, hati saya terlalu rumit untuk diurai kembali menjadi sepotong yang baru. Ada ribuan kamu di dalam sana, yang menjadi juntaian benang-benang kusut yang tak lagi mampu saya uraikan. Masih saja kamu, membatasi ruang bahagia saya, memaksa saya mengingat bahagia-bahagia yang kini hanya menjadi 'pernah'. Bahaagia-bahagia yang selanjutnya kita sepakati sebagai kenangan. Bedanya, saya yang masih terus mengenang, sedang kamu yang terus melupakan.
Segalanya masih saja tentang kamu, masih saja tentang saya dan kamu, masih saja tentang tempat itu, masih saja saya terpaku dan kamu melaju.
Seharusnya, semudah itu.
Jikalau saja kamu tau hebatnya perang dalam hati saya yang menginginkan bahagia yang baru, namun masih saja kamu. Jikalau saja kamu mau tau prihal hati-hati yang tanpa sengaja saya patahkan, karena hati saya masih saja kamu.
Seharusnya, semudah itu.
Tapi saya masih saja gagal mengusir kamu dari tempat yang sudah lama kamu tinggalkan.

30 Nov 2016

Minggu, 27 November 2016

Pada Langit Pukul 11 Malam Itu


Malam yg dingin karena sebelumnya hujan turun sedari sore, tapi entah mengapa terasa begitu hangat bahkan lebih hangat dari sinaran senja. Saya tidak bisa melepaskan senyum yg terus mengembang, mungkin saya tengah bahagia, terlalu bahagia.
Pada langit pukul 11 malam itu, di bawah riuh rendah lain yang mungkin tengah merasakan bahagia yg sama, saya ingin terus terjaga, menghabiskan malam yang tersisa agar lebih panjang agar pagi tak cepat datang.
Pada langit pukul 11 malam itu, saya tau, ada hati yang tengah merekah, lebih harum dari mawar manapun yg ada di dunia. Tempatnya terpencil, jauh dari bising keramaian, hanya ada satu, dan satu-satunya.
Pada langit pukul 11 malam itu, ada yg seharusnya kamu tau.
Pada langit pukul 11 malam itu, ada yg seharusnya kamu tau.

30 Oktober 2016