Selasa, 07 Juni 2016

Untuk Abang

Ditulis pada: 6 Juni 2016
Kepada: 1 Juni 2016

Abang, tau kah? Hari itu menjadi hari favorit saya sepanjang sejarah. Belum pernah saya pergi ke kampus se-semangat itu. Membawa senyum merekah dari rumah yang tidak lepasnya dari wajah. Walau hanya mendapat jatah tidur 3 jam, walau kelelahan oleh setumpuk kegiatan yang saya jalani sehari sebelumnya, walau jam 10 pagi saya kedinginan di ruang kelas di tengah-tengah jam kuliah karna masuk angin, huf, tidak masalah, saya harus tetap sehat, setidaknya terlihat sehat, di depanmu, Abang.
Abang, tau kah? Sesekali saya gelisah, takut-takut kalau ada penampilan di diri saya yang tidak kamu suka, atau terlihat aneh di matamu, berkali-kali saya bertanya pada teman, meminta mengoreksi pakaian saya, atau lipstik saya yang belepotan. Dan sedih sekali karena saya duduk sembarangan, dan baju putih saya terkena coklat :( abang tau itu, dan saya suka respon kamu.
Abang, tau kah? Saat akhirnya saya lihat lagi kamu, tepat di hadapan saya, ada berjuta kelu yang tak mampu saya ucapkan. Ingin sekali berubah menjadi anak kecil yang loncat kegirangan usai diberi permen. Bukan, abang bukan permen. Abang itu.....
Abang, tau kah? Hari itu menjadi hari yang ingin saya ulangi, berkali-kali. Entah ke Mars mana yang Abang maksud, saya nyaman berada dekat dengan kamu. Entah berapa Alf*mart yang akan kita bangun di Mars tersebut, saya merasa cukup dengan hadirnya abang di hari itu.
Abang, maaf, karena saya tidak menyenangkan, karena saya tidak tahu banyak tentang film, karena saya malah tertidur dan membiarkan Abang menonton sendirian, karena saya tidak menghabiskan makan siang. Maskernya masih saya simpan, buat nanti kalau kita tamasya ke Mars lagi :)
Abang tau kah? Berkali-kali saya mengutuki diri saya sendiri setelah pertemuan tersebut. Menyesali kebodohan saya, keteledoran saya, ke-absurd-an saya yang sempatnya tertidur. Saya selalu ingin memberikan yang terbaik, walau hasilnya masih jauh dari kata baik. Abang bilang tidak masalah, tapi tau kah abang kalau penyesalan saya sulit hilang, saya butuh ditenangkan sekali lagi.
Entah sejak kapan Abang, segala yang ada di dirimu begitu menarik untuk diamati. Segala yang melekat, menjadi begitu penting untuk saya kenali. Entah sejak kapan, saya berhenti mencari, menyadari potongan yang hilang itu telah ditemukan. Entah sejak kapan, yang saya tau, saya bahagia, mendengarkan cerita dan berada di dekat Abang. It is like...yeayyyy I just found my missing pieces. Gitu, Abang.
Saya mau, Abang jangan pergi. Tapi saya tidak akan memaksa. May we find each other soon, and see you in our Mars.

Kamis, 19 Mei 2016

Terima Kasih Sudah Membuat Jatuh Cinta

Terima kasih sudah membuat jatuh cinta
Membuat dinding hati yg lama dingin menjadi lebih hangat
Terima kasih sudah membuat jatuh cinta
Membuat atap-atap pengharapan itu kembali terisi asa
Bukan aku yg memilihmu, hatiku yg menjatuhkan pilihannya
Menjatuhkan pada hati yang dipercayai bahagia
Terima kasih sudah membuat jatuh cinta
Walau nyatanya tak dapat kupilah mana semu mana nyata
Terima kasih sudah mengizinkan hati ini tamasya, walau tak mampu kau bawaku kembali pulang
Terima kasih sudah memberikan waktumu yg begitu berharga untuk mendengarkan cerita walau kutau telingamu tak tertarik mendengarnya
Hatimu yg berkabut, tertutup sembilu yg entah karna siapa
Begitu lebat, pekat, hingga tak mampu kumasuki jauh lebih dalam
Tanganmu yg kuat masih menggenggam sisa-sisa kenangan dengan yg terdahulu
Dahulu
Yang telah begitu memenangkan hatimu
Hingga sekarang
Yang juga mematahkanmu dengan hebatnya

Rabu, 11 Mei 2016

Yang Saya Sebut Perempuan Aneh

Saya berkali-kali menyebut, bahwa saya perempuan yang aneh. Saya lebih suka asinnya keju daripada manisnya coklat. Saya menggilai warna pink sampai semua barang-barang yang saya miliki berwarna senada. Saya bisa stress seharian melihat dark circle hasil begadang semalaman. Saya tidak suka ikan. Saya nyaman berjalan sendirian. Saya suka gelendotan. Saya menikmati sekali salah satu kegiatan dalam hidup yaitu mandi. Saya yang suka sekali qball Chatime dan jatuh cinta pada matcha latte. Dan candy crush saya yang stuck di level 60.
Saya suka dipeluk. Nanti, kalau sekiranya mood saya sedang tidak berada dalam posisi tidak baik, kamu tidak usah menghibur saya terlalu keras, cukup peluk saya, saya akan luluh. Saya suka memakai lipstick merah, apalagi di saat mood sedang tidak karuan. Saya itu aneh. Saya bisa saja tiba-tiba ingin memakai lipstick ungu saat sedang mengetik tugas kuliah, di dalam kamar. Saya itu aneh.
Bukan kamu yang memperhatikan saya selama 24 jam dengan perhatian ala-ala anak SMA sedang kasmaran yang saya mau, bukan. Kamu tidak perlu berada di sisi saya setiap waktu, cukup luangkan waktumu sesekali, menengok keadaan cintamu yang sedang baik-baik saja dengan sewajarnya. Bukan lagi rayuan-rayuan gombal yang telinga saya ingin dengar, namun tegas penuh kepastian yang saya butuhkan agar batin saya percaya, kamulah orangnya. Walau nurani saya sebagai perempuan, tidak menampik adanya kebutuhan akan rayuan gombal tersebut, cukup sematkan sesekali, seperlunya, sewajarnya, perlakukanlah saya sebagai perempuan yang sepenuhnya duniamu. Saya itu aneh, mungkin kamu sudah harus menabung sabar mulai sekarang, jikalau keanehan-keanehan saya datang sewaktu-waktu, merengek untuk ditenangkan layaknya balita yang sedang haus.
Saya sok tau, menurut saya, cinta adalah tentang penerimaan-penerimaan, pemakluman-pemakluman, dan tak bosan pulang ke rumah yang sama, betapapun sederhananya rumah tersebut, betapapun banyaknya rumah di luaran yang lebih indah, tentang kenyamanan-kenyamanan yang tercipta dari rasa aman, tentang kebutuhan, bahwa senyebelin apapun ia, keadaan akan jauh lebih buruk jika ia tidak ada.
Jangan lelah ya kamu, betapa pun anehnya saya, betapapun sulitnya saya, saya ingin kamu tetap berjuang, saya ingin kamu yang saya jadikan rumah, saya ingin lenganmu yang saya jadikan bantal tidur saya, saya ingin bahumu yang menjadi tempat bermain anak-anak saya. Ii thank you, untuk sudah mau mencintai saya, perempuan aneh yang suka pelukan.

10 Mei 2016

Rabu, 04 Mei 2016

Sendiri Itu Kuat, Berdua Itu Saling Menguatkan

Terkadang saya berpikir, betapa menyenangkannya memiliki seseorang yang saling menguatkan. Betapa menyenangkannya hidup jika di kala kita tengah berada pada titik jenuh paling rapuh, lantas ada dia sosok yang menawarkan ketenangan, bahkan sekadar untuk bermanja rebah di bahunya. Kadang saya berpikir, betapa indahnya hidup jika berdampingan dengan orang-orang yang disayang. Saya kerap memikirkan, hal-hal baik yang ditularkan oleh orang-orang yang baik pula.
Tapi bukan hidup kan namanya kalau kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Butuh perjuangan dan proses yang tingkat kesulitannya berbeda di setiap orang. Lantas yang bisa dilakukan hanyalah menambah kuat dan bersabar. Karena hanya itu pilihannya.
Menyenangkan berada di dekat orang-orang yang membuat nyaman. Sejauh ini, saya bersyukur, karena Dia senantiasa mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Ada kalanya saya sedih sendiri, ingin sekali meluapkan kesedihan tapi entah dengan cara apa, ingin sekali dikuatkan oleh ia yang memberi nyaman. Tapi pilihannya hanya satu, memperbesar kuat dan memperbanyak sabar. Kelak, pelukan-pelukan panjang itu kan datang. Kasih dari seseorang lewat hangatnya pelukan-pelukan yang paling hangat.
Karena sendiri itu kuat, berdua itu saling menguatkan.
4 Mei 2016
(Sedang dipusingkan dengan UTS dan KKN)

Kamis, 28 April 2016

Perihal Kehilangan

PERIHAL KEHILANGAN

Hilang. Ataupun Kehilangan. Saat usia saya masih 10 tahun saya pernah kehilangan, satu tempat pensil berbentuk anjing kesayangan yang berisi pensil, penghapus pun pulpen serta segala isinya. Tentu karena keteledoran saya, maletakkan dan membiarkannya di sembarang tempat. Tentu selang beberapa hari saya sudah menggantinya dengan tempat pensil yang baru. Rupanya kesedihan saya lantaran kehilangan tempat pensil kesayangan hanya selang beberapa hari, setelah saya mendapat tempat pensil yang baru pemberian Ayah saya, nyatanya saya dengan mudah melupakan si Tempat Pensil Berbentuk Anjing itu.
Selang 8 tahun, saya kembali..merasakan kehilangan. Kehilangan yang sama. Perginya sesuatu yang telah lama menemani dan terlanjur menjadi kesayangan. Tapi bukan lagi tempat pensil ; berbentuk anjing, kucing, kambing, atau bahkan cacing. Saya kehilangan seseorang. Bukan hanya seseorang, saya pun kehilangan rasa, asa, entah apa lagi yang belum kelar saya sadari semua. Bukan seperti saya melupakan si Tempat Pensil berbentuk Anjing kala usia saya 10 tahun, saya kesulitan untuk melupakan seseorang yang telah pergi. Atau, seseorang yang telah memilih pergi. Saya begitu bodoh dalam hal melupakan seseorang itu. Dengan jarak yang sekian jauhnya pun dia yang tak lagi terdengar suaranya, seharusnya saya dapat dengan mudah melupakan. Seharusnya. Seseorang itu bukanlah tempat pensil yang dapat dengan mudah diganti dengan tempat yang baru saat tempat pensil yang lama hilang. Pun kenangan di dalamnya bukan batang pensil, penghapus dan pulpen yang dapat dengan mudah dibelikan oleh Ayah saya. Bukan.
Makna ‘Kehilangan’ kala saya berusia 10 tahun dengan saya berusia 18 tahun kini, sungguh sangat jauh berbeda. Terlalu rumit, telalu sulit. Saat usia saya 10 tahun, saya begitu mudah menghilangkan. Dan kini, saat 18 tahun usia saya, saya begitu mudah kehilangan. Kata ‘Hilang’ tak lagi sederhana di kepala saya. Bukan lagi tentang tempat pensil berbentuk anjing berwarna oranye. Melainkan seseorang, yang tak ingin saya sebutkan namanya.
Saya kehilangan, entah sesuatu atau seseorang, yang pernah sebegitu saya perjuangkan. Saya tidak lagi meletakkannya sembarangan karena keteledoran saya seperti saat saya berusia 10 tahun, melainkan saya letakkan seseorang itu di tempat yang barang kali tak dapat dengan mudah terjamah orang lain. Di tempat dimana saya mengira disanalah seseorang itu akan tinggal. Tetapi nyatanya, seseorang itu menutup kembali pintu yang telah ia buka. Berbalik arah lalu melangkah pergi. Saya yang berdiri di ambang pintu itu, hanya dapat melihat punggungnya yang bidang, tempat saya bersandar kala hati tengah tak menentu, menjauh dari tempat saya berdiri. Saya bodoh. Seharusnya saya menarik tangannya dan memaksanya kembali. Tapi saya memilih diam, memanggilnya dalam tangisan. Karena kekuatan paling tangguh ada saat kita mampu menahan diri dari menahan perginya seseorang. Begitu katanya.
Dan saya begitu kehilangan. Saat hari-hari tak lagi sama. Saat saya harus menata kembali dan membuang segala hal yang telah pergi meninggalkan. Awalnya saya pikir, saya kehilangan, seorang diri. Tapi nyatanya, kamu pun merasakan kehilangan yang sama. Saya kehilangan seseorang yang saya cintai. Sedang kamu, kehilangan cinta yang teramat besar yang telah kamu paksa menggugurkan diri sebelum sempat berbunga.    
5 Februari 2013
(Ditulis 3 tahun lalu, saat sedang hangat-hangatnya merasakan patah hati)

Rabu, 27 April 2016

Cerita Minggu-Minggu Penuh Perjuangan

Cerita Minggu-Minggu Penuh Perjuangan

Belakangan ini, atau lebih tepatnya dua minggu ke belakang, saya dihadapi dengan situasi-situasi yang sedikit menguras energi pun emosi. Batin saya sebagai perempuan, kerap mengekspresikannya dengan tangisan. Sendiri, ataupun di hadapan keluarga dan teman.
Saya merasa Allah sedang sayang-sayangnya dengan saya, sedang memberikan perhatiannnya dengan penuh ke arah saya. Allah begitu baik. Saya senang berprasangka baik kepadaNya.
Kalau boleh digambarkan, saya seperti dihadapkan kepada batuan besar di hadapan saya, pun di atas pundak saya. Berat. Membuat lelah. Ingin menangis. Tapi tidak ada pilihan lain selain terus berjalan ke depan. Minggu-minggu terberat yang cukup membuat mata saya sedikit panas dan membangkak pada pagi harinya karena terlalu banyak atau terlalu lama menangis. Ah, cengeng. Iya, tapi adakalanya diri juga merasa lelah dan ingin menumpahkan segala isi kepala.
Berada di bawah tekanan yang mengharuskan saya ini dan itu. Terjebak dalam situasi sulit, kesulitan yang sulit yang mengharuskan saya harus tetap bersabar dan sabar. Karena hanya itu pilihan yang saya miliki. Ketika sehabs solat dan berdoa, hanya tangis yang mampu saya keluarkan  tanpa kata-kata, terlalu sesaknya dada saya, sambil menutup mata dengan mukena saya bayangkan ada Allah di hadapan yang senantiasa memeluk. Tanpa kata pun, saya yakin Allah mengerti. Allah Maha Mengerti.
Dihadapkan oleh situasi sulit, mungkin ini bagian dari perjalanan hidup saya di usia 21 yang bisa dikatakan sudah dewasa. Allah ingin menggembleng saya supaya tidak lagi cengeng, tidak lagi mudah menangis. Wait, tidak ada yang salah dengan mudah menangis, itu tanda bahwa hatimu masih bekerja dengan baik, bahwa hatimu dimiliki oleh pribadi penuh simpati pun empati. Tidak ada yang salah, hanya harus diseleksi dan diberi pengarahan tentang tempat untuk menangis yang baik. Panjangkan durasi berdoamu, menangislah sekencang-kencangnya dalam sujud. Bahwasanya pendengar yang baik itu ada begitu dekat denganmu, relakamu temui tiap waktu siang dan malam, yang tidak akan mengkhianatimu di belakang, atau membocorkan rahasiamu kepada yang lain. Dialah Yang Sang Maha. Dialah pendengar yang baik. Saya sedang dan masih terus berusaha menikmati tiap-tiap episode pun fase-fase kehidupan yang tak indah. Karena begitulah seharusnya hidup. Perlu adanya sedikit tangis, agar saat kamu bahagia, kamu tidak lupa, bagaimana pedihnya rasa sakit.
Setidaknya dalam kesedihan dan situasi tidak menenakkan tersebut, saya masih punya tempat untuk saya berkeluh kesah. Terima kasih, yaa Allah. Semoga cinta saya terus seperti ini sampai akhir, terus membumbung tinggi menembus langit.

27 April 2016
(seharusnya ngerjain soal UTS, tapi malah nulis blog ( )
.

Rabu, 13 April 2016

Patah hati itu, nikmat.

Hey world, welcome to my new blog and enjoy my arts.
Ini adalah blog ketiga yg saya buat, setelah dua blog pendahulunya terbengkalai sampe lupa password. Huhu.
Ga ada konten spesifik yang saya tulis disini, semuanya hanya berdasarkan apa yang saya senangi randomly sih sebenarnya. Kadang tulisannya berisi yang sedih-sedih sampe yang menyayat-nyayat hati, kadang juga jadi yang bahagia-bahagia kayak anak abg lagi jatuh cinta, tapi kadang juga bisa aja saya ngereview make up yang sedang saya suka. Saya anaknya memang agak random dan absurd, tapi hati saya sudah pasti dijatuhkan oleh seseorang yang belum ingin saya sebutkan namanya. #curhurt.
Dua tulisan pertama saya, saya tulis tahun 2013, kurang lebih dua tahun yang lalu. Kenapa kok galau banget sih tulisannya? Mbaknya lagi sedih banget ya? Jawabannya, iya. :) (fake smile that I really enjoy to use)
Seperti segala sesuatunya yang selalu memiliki sebab-akibat, begitupun tulisan saya yang sebut tadi di atas. Itu ditulis pada saat-saat terkelam dalam hidup saya. Lebay ya, tapi emang gitu kenyataannya. Hiks T_T
Mau tau ceritanya kayak apa? Well, walaupun ga ada yang mau tau, saya akan tetep cerita hohoho :D
Selama 21 tahun dalam hidup saya, saya pernah dibuat jatuh (jatuh cinta, jatuh sakit, jatuh literally jatuh) pada satu orang yang salah. Selama tiga tahun masa remaja saya mau ga mau, suka ga suka, harus banget ada cerita tentang itu.
Pasti pusing ya karna saya ceritanya muter-muter hehe.
Oke, saya beneran mau cerita. Jadi.....jujur aja saya males banget kalau harus ceritain tentang ini karna ini masuk dalam black list dalam hidup saya. Tapi saya udah janji kan ya mau cerita. Oke, serius kali ini saya bakal ceritain. Jangan pada ngerasa didongengin apalagi sampe tidur ya :D
Well...
Pada suatu hari, (no, ini kayak mau ngedongeng beneran)
Intinya, waktu itu saya baru aja masuk SMA di salah satu sekolah yang kalian ga perlu tau saya sekolah dimana hoho. Dan, ada seseorang yang jatuh suka sama saya (ciyeeee, seneng ya, bentar, jangan seneng dulu, karna kesananya isinya cuma sedih aja. Jangan pada seneng dulu :))
Seperti abg tanggung pada umumnya dan pada zamannya ( sekitar tahun 2010) dan saat itu belum ada whatsapp, Line, bbm pun belum sepopuler tahun2 berikutnya, si Masnya ini (sebut aja dia si Mas. Saya males nyebutin namanya, harus minum obat anti alergi dulu), iya si Masnya ini nelpon saya, mengenalkan diri dan bla bla bla yang detail-nya saya udah lupa hehe. Dan pada saat itu juga, saya adalah sepucuk anak gadis yang belum pernah mengenal cinta #eaa (((SEPUCUK))), dan bisa ditebak saat itu saya belum pernah punya pacar ( eh lupa, ternyata sampe sekarang :( ), belum pernah merasa dicintai sampai segitunya, belum pernah merasa diperjuangkan sampai segitunya, dan belum pernah-belum pernah yang lainnya. Seiring waktu berlalu, singkat cerita saya mulai jatuh suka juga sama si Masnya ini. Huffff :(
Di tengah-tengah perasaan saya yang lagi terbang setinggi-tingginya itu, ternyata oh ternyata, (oke disini kisah sedih dan ga ngenakinnya di mulai) (maap spoiler), si Masnya ini nembak temen saya dong. Yha langsung bikin ilfeel ga sih sama laki yang begitu (Masnya zaman sekarang kalo mau terlihat ganteng itu bukan dengan cara sok2 jadi playboy wanna be dengan mengoleksi banyak gebetan, tapi prestasi yg dibayakin dan dijadiin koleksi).
Seiring berjalannya waktu, saya yg saat itu masih imut-imut dan unyu-unyu, dan merasa belum siap dengan problematika kehidupan seperti ini pun mulai galau, dan mulai menjauhi masnya. Tapi ternyata, setelah si Masnya ini ditolak mentah-mentah sama teman saya, si Masnya ini pun mulai modusin saya lagi (duh Mas...Mas...receh banget sih hidupnya). Dan dengan segala ke-ilfeel-an yang sudah melekat dan tertanam dalam sanubari, saya pun menolak Masnya, berkali-kali :). (Sabar ya Mas)
Panjang banget pemirsa ceritanya kalau saya jabarin disini, tiga tahun di hidup saya itu cuma tentang dia doang. Kasian ya
Itu waktu kita masih kelas X. Dan pas naik kelas XI, ceritanya udah beda lagi walaupun tokohnya masih sama dia-dia juga. Heu.
Waktu kelas XI itu saya mulai galau karena ternyata saya kayaknya baru sadar kalau saya memiliki perasaan yang gabiasa sama si Masnya ini. (Plis Mas jangan geer, ini udah beberapa tahun silam waktu saya khilaf). Singkat cerita, kami kembali dekat, tapi saya kembali nolak Masnya. Hehehe. Bukan, bukan saya sok cantik atau mau dikejar-kejar, tapi kayak ada aja dari tingkah Masnya yg ngebuat saya jadi ilfeel. Huhuhu
Nah, di tengah segala kegamangan itu, ternyata si Masnya ini deket lagi sama teman saya, dan akhirnya pun kali ini Masnya ga ditolak, teman saya nerima Masnya dan mereka pun berdua jadian. Dan saya pun galau lagi plus ngerasa ga ngerti sama perasaan saya sendiri maunya apa. Hehe. Kalau mau tau, itu adalah saat-saat terburuk dalam hidup saya. Sepatah-patahnya hati saya yang pernah saya rasain dalam hidup. Kalau mau tau lagi, saya saat itu berubah jadi pribadi yang nyebelin, cengeng, mudah marah, mudah tersinggung, baperan, pokoknya ga banget deh. Waktu itu saya inget banget, saya sampe jatuh sakit dan ga masuk sekolah selama beberapa hari. Pokoknya kasian deh kayak orang ga ada semangat hidup, dateng ke sekolah cuma bengang-bengong terus nangis. Sumpah, saya aja males banget cuma buat nginget-nginget ini pun :( selain itu nilai-nilai pelajaran saya pun menurun drastis dan terjun bebas karena saya mulai males belajar, males ngerjain PR, dan sering bolos. Huhu. Agak kesel dan ngerasa bodoh sih, karena saya sampe segitunya sedangkan si Masnya ini bahagia-bahagia aja sama pacar barunya :)
Tapi itu ga lama kok, naik ke kelas tiga, saya mulai menata hidup saya lagi, mulai membuka lembaran baru dengan pribadi baru yg saya mencoba untuk lebih baik dari masa-masa kelam yang kemarin itu. Saya mulai berbaur lagi dengan teman-teman, dan mencoba berdamai dengan keadaan. Hubungan saya dengan teman saya pun, lambat laun mulai membaik dan saya mencoba memaafkan segalanya dan melapangkan hati saya. Segampang itu? Nggak :) butuh waktu dan kemauan yang tinggi dari dalam diri sendiri untuk berdamai dengan keadaan. Berkali-kali saya harus bertengkar dan silang pendapat dengan anak kecil yang ada di kepala saya. Yang saya rasakan saat itu adalah damai, tentram, dan saya juga ngerasa punya semangat baru dalam hidup. Ga perlu cuma karena satu laki-laki yang salah dan ga banget, merusak pertemanan yang jauh lebih berharga. Yaudah, pokoknya saya udah mengikhlaskan segalanya dan berasa lahir kembali dengan pribadi dan semangat yg baru. (Gilaaa, lebay abisssss).
Beberapa bulan setelah kenaikan kelas XII itu, salah satu teman saya bilang kalau si Masnya ini putus. Saya ga tau apa yang saya rasain. Satu yg saya inget, datar banget saya ngejawab pernyataan teman saya itu, cuma dengan "oh ya?" Udah, gitu doang. Saya benar-benar udah ga mau tau lagi dengan urusan si Masnya ini dengan siapapun. Hohoho. Walaupun sebenernya tetep ada terasa rasa-rasa yang ga mampu saya jabarkan itu, tapi saya ga mau jatuh lagi ke lubang yang sama, terlebih yang ngejatuhin orang yang sama pun. Makasi la yaw.
Tapi...ternyata sifat genit si Masnya ini susah hilang ya. Tetep aja usaha mengusik kebahagiaan saya yang hakiki. Huuuu. Dan singkat cerita lagi, waktu malam perpisahan SMA di salah satu tempat, si Masnya ini bbm salah satu teman saya mau minta foto bareng saya untuk kenang-kenangan di kampung halamannya (saya ceritain karena lulus SMA dia balik kampung ke hometown-nya) (Dan kenapa si Masnya malah bbm teman saya bukannya bbm saya aja, karena saat itu hp saya Nokia) wkwkwk. Dan ya, dengan perasaan sedikit geer gitu sih ya, saya mau diajak foto, dan kocag banget karena harus ngumpet-ngumpet takut ketauan sama seorang oknum gitu hehe. Dan jadilah kita foto, terus ngobrol-ngobrol sebentar. Yang entah kenapa kejadian malam itu tuh bikin saya gagal move on, perjuangan saya move on berbulan-bulan, runtuh gitu aja. Ih kzl.
Dan udah bisa ditebak dong ya, kalo si Masnya ini mulai ngedeketin saya lagi dan modusin saya lagi dengan modus-modus kelas tempenya itu. Hih. Awalnya itu si Masnya minta nomer saya lagi ke temen saya, dan mulai sms-in saya lagi. (Iya, waktu itu tahun 2013 dimana mayoritas abg udah pake smartphone, saya masih pake Nokia yang cuma bisa buat sms-an) hehe. Dan ya, si Masnya ini ngejanjiin saya mau ketemu sebelum si Masnya berangkat pulang kampung. Predhhhh
Tapi ya janji tinggal janji lah ya, bisa ditebak si Masnya ini orangnya ga konsisten dan ga bisa pegang omongan :) jadi cuma php aja deh. (Kurang-kurangin Masnya). Saya inget waktu itu hari pengumuman kelulusan di sekolah, dan alhamdulillah saya lulus :D yeeay. Malamnya itu si Masnya ini janji mau bilang sesuatu di sekolah. Saya nunggu dong, dari rumah niat saya berangkat sekolah ini ya mau denger pernyataan si Masnya (disamping liat pengumuman UN) di sekolah mata saya celingak-celinguk, ngobrol sama temen pun ga konsen, karna raga di sekolah tapi pikiran melayang-layang entah kemana, dan ternyata si Masnya ga dateng :) saya semacem dilatih menelan kekecewaan sejak dini gitu. Nah abis gitu, saya dan ciwi-ciwi kelas saya itu pergi karokean di salah satu mall di pinggiran Jakarta, ceritanya ngerayain kelulusan gitu deh. (Gaya banget anak SMA) :D Sepanjang karokean itu saya ga fokus karena saya terus kepikiran si Masnya. Hufff. Selalu si masnya ini menjadi perusak suasana. Selesai karaoke sekitar jam 6 dan kita solat maghrib dulu, habis itu pulang. Dan si Masnya ini menawarkan diri untuk jemput saya di salah satu jalan. Ya berhubung udah malem dan saya mau juga (dan masih berharap si Masnya ini nepatin janjinya untuk ngomong sesuatu) jadilah kita janjian dan saya diantar pulang sama si Masnya. Saya berharap si Masnya ini mau cerita tentang apa yg mau dia bilang di sms itu ke saya. Tapi ternyata yang dibahas sepanjang perjalanan itu cuma seputar UN tanpa sedikit pun si Masnya ngebahas permasalahan yg sebenernya. Dan saya pun ga berani nanya ke si Masnya. Pikiran saya waktu itu sih cuma takut ngerusak suasana aja. Hahaha.
Hari-hari berikutnya tetap ga ada kejelasannya dari si Masnya ini kapan mau bertemu. Oh, ada cerita lucu sebelumnya yang lupa saya ceritain di awal. Jadi, waktu itu sore-sore dan hujan-hujan temen-temen angkatan SMA saya melakukan ritual ala-ala anak Indonesia gitu, selesai UN coret-coret baju pake pilox. Hehehe. Ya seru, karena seluruh angkatan (angkatan saya emang ga banyak, sekitar 75 orang aja dan ga semuanya saat itu hadir) mereka (iya, mereka. Karena saya ga ikutan coret-coretan. Hiks. Sedihhhhh) hujan-hujanan sambil coret-coretan baju. Kebayang dong ya...saat itu saya ga ikutan coret-coretan karena ya cupu banget sih mikirnya, saat itu hujan dan pasukan antibodi di dalam tubuh saya ini tergolong males, jadi gimana-gimana sedikit besokannya bisa langsung sakit. Jadi saya cuma di dalam aja sambil makan mie ayam. Dan kebiasaan saya waktu SMA itu selalu bawa-bawa sapu tangan setiap hari, ga jelas fungsinya apa, tapi ingin dibawa aja. Hehe. Dan, you know what? Waktu itu (tanpa sadar), sapu tangan saya jatuh ke lantai saat saya keluar buat pesen mie ayamnya. Daaann, bersamaan dengan si Masnya ini masuk ke ruangan lalu mengira sapu tangan saya lap lantai yg lantas dijadiin lap untuk kakinya yang kotor kena hujan. Euwh..jorok banget ga sih :(
Singkat cerita lagi, momen bertemu itu saya juga jadiin sebagai alasan saya minta gantiin sapu tangan saya yang udah ga suci lagi itu huhu. Tapi ya rencana tinggal rencana lah ya, si Masnya ini bener-bener ga ada niatan untuk ketemu dan cuma mau ngerjain saya aja. Sampe minus beberapa hari sebelum si Masnya ini berangkat, ga ada kejelasan, saya pun mulai bete, cape, bosan, kzl, zbl, dll, dkk.
Akhirnya, si Masnya ini nemuin saya berbarengan dengan acara kelas saya yang mau kasih kejutan ulang tahun ke wali kelas. Sumpah, saya udah bete banget sebenernya karena serasa dibohongin dan ingkar janji terus si Masnya ini. Rasanya dari yang penasaran banget, sampe yang flat aja gitu yang terserah aja udah. Itu pun si Masnya dateng udah sore banget, dan cuma bantuin nganter saya sampe ke rumah wali kelas saya. Dan drama-drama dia pun dimulai. Ga ada kejelasan sama sekali. Si Masnya ini cuma pamit mau pergi habis itu udah. Saya sedih, bete, kesel, kecewa banget waktu itu. Tapi mau protes pun ga bisa. Yaudah cuma bisa pasrah aja.
Dan itulah awal dari segala kisah perjuangan move on saya. Kecewa dan sendiri. Ditinggal pergi dengan segala perasaan yang campur aduk. Si Masnya ini tau, sedari awal kalau bagaimanapun ga akan bisa mengembalikan semuanya, tapi si Masnya ini (membodohi) saya dengan harapan-harapan yang saya terima dengan cuma-cuma. Masnya, selamat ya kamu berhasil memporak-porandakan segala yang telah saya bangun :) tapi cuma sementara, syukurnya saya cukup kuat untuk mendirikan kembali bangunan saya seorang diri. Good job, Masnya. :)
Kalau mau tau (atau saya memaksa memberi tau kalian), cukup lama saya untuk me-recovery segalanya. Satu tahun lebih, sampai rasa saya benar-benar habis untuk makhluk seperti Masnya ini. Dan dalam prosesnya, saya lebih banyak menuangkan perasaan saya ke dalam bentuk tulisan. Selain memang karena hobi, saya pun berpikir kalau "musibah" ini harus menghasilkan sesuatu, setidaknya minimal menghasilkan karya, yang saya sendiri yang menikmati atau bahkan bisa dinikmati juga oleh orang lain. Jadilah beberapa tulisan, yang isinya yaaa kurang lebih seperti kisah yang saya ceritakan di atas.
Patah hati itu...nikmat. kalau saja kita mau lebih jeli melihat peluang positif di balik itu semua. Patah hati itu ga selamanya harus menangis meraung-raung, ga makan, ga mandi, ga mau keluar kamar (oke saya pun pernah se-alay ini), tapi cobalah lampaui diri kalian sendiri dengan menciptakan "sesuatu" yang menghasilkan, sesuatu yang bisa bikin kalian bangga sama diri kalian sendiri. Kalau saya, lewat tulisan karena hobi saya menulis. Kalian bisa menuangkannya dalam bentuk apa saja sesuai minat dan hobi kalian. Jangan mau dijajah sama perasaan sendiri. Buat orang yang menyakitimu itu menyesal dengan menghasilkan sesuatu yang membuat kamu kembali merasa bahagia. Ciptakan bahagiamu sendiri, jangan ditunggu. Percaya deh, patah hati itu, nikmat :)
Kenapa jadi sok bijak gini. So sorry :))
Intinya, itulah cerita di balik dua tulisan saya yang kesannya kok sedih banget. Iya, emang saat itu penulisnya sedang sedih :) sekarang alhamdulillah masa-masa kegelapan itu udah lewat dan saya sudah fokus pada masa depan saya. Dulu, jangankan mau ceritain hal ini, denger nama si pelakunya pun saya ga mau, mungkin karena hati yang belum ikhlas dan belum mau nerima kenyataan. Sekarang, saya bisa ceritain ini ke siapapun dengan tersenyum lebar dan berharap jadi inspirasi lah ya minimal (apanya yg mau dijadiin inspirasi hehe). Ya kalaupun ga bisa dijadiin inspirasi, seenggaknya dijadiin semangat untuk kalian-kalian teman-teman di luar sana yang juga tengah berjuang buat move on atau apapun itu namanya. Semangat!!!
Patah hati itu nikmat. Percaya deh. :)
12 April 2016