Selasa, 25 Oktober 2016
Komunikasi Hati
Semesta yang Maha Ajaib
Selasa, 07 Juni 2016
Untuk Abang
Ditulis pada: 6 Juni 2016
Kepada: 1 Juni 2016
Abang, tau kah? Hari itu menjadi hari favorit saya sepanjang sejarah. Belum pernah saya pergi ke kampus se-semangat itu. Membawa senyum merekah dari rumah yang tidak lepasnya dari wajah. Walau hanya mendapat jatah tidur 3 jam, walau kelelahan oleh setumpuk kegiatan yang saya jalani sehari sebelumnya, walau jam 10 pagi saya kedinginan di ruang kelas di tengah-tengah jam kuliah karna masuk angin, huf, tidak masalah, saya harus tetap sehat, setidaknya terlihat sehat, di depanmu, Abang.
Abang, tau kah? Sesekali saya gelisah, takut-takut kalau ada penampilan di diri saya yang tidak kamu suka, atau terlihat aneh di matamu, berkali-kali saya bertanya pada teman, meminta mengoreksi pakaian saya, atau lipstik saya yang belepotan. Dan sedih sekali karena saya duduk sembarangan, dan baju putih saya terkena coklat :( abang tau itu, dan saya suka respon kamu.
Abang, tau kah? Saat akhirnya saya lihat lagi kamu, tepat di hadapan saya, ada berjuta kelu yang tak mampu saya ucapkan. Ingin sekali berubah menjadi anak kecil yang loncat kegirangan usai diberi permen. Bukan, abang bukan permen. Abang itu.....
Abang, tau kah? Hari itu menjadi hari yang ingin saya ulangi, berkali-kali. Entah ke Mars mana yang Abang maksud, saya nyaman berada dekat dengan kamu. Entah berapa Alf*mart yang akan kita bangun di Mars tersebut, saya merasa cukup dengan hadirnya abang di hari itu.
Abang, maaf, karena saya tidak menyenangkan, karena saya tidak tahu banyak tentang film, karena saya malah tertidur dan membiarkan Abang menonton sendirian, karena saya tidak menghabiskan makan siang. Maskernya masih saya simpan, buat nanti kalau kita tamasya ke Mars lagi :)
Abang tau kah? Berkali-kali saya mengutuki diri saya sendiri setelah pertemuan tersebut. Menyesali kebodohan saya, keteledoran saya, ke-absurd-an saya yang sempatnya tertidur. Saya selalu ingin memberikan yang terbaik, walau hasilnya masih jauh dari kata baik. Abang bilang tidak masalah, tapi tau kah abang kalau penyesalan saya sulit hilang, saya butuh ditenangkan sekali lagi.
Entah sejak kapan Abang, segala yang ada di dirimu begitu menarik untuk diamati. Segala yang melekat, menjadi begitu penting untuk saya kenali. Entah sejak kapan, saya berhenti mencari, menyadari potongan yang hilang itu telah ditemukan. Entah sejak kapan, yang saya tau, saya bahagia, mendengarkan cerita dan berada di dekat Abang. It is like...yeayyyy I just found my missing pieces. Gitu, Abang.
Saya mau, Abang jangan pergi. Tapi saya tidak akan memaksa. May we find each other soon, and see you in our Mars.
Kamis, 19 Mei 2016
Terima Kasih Sudah Membuat Jatuh Cinta
Terima kasih sudah membuat jatuh cinta
Membuat dinding hati yg lama dingin menjadi lebih hangat
Terima kasih sudah membuat jatuh cinta
Membuat atap-atap pengharapan itu kembali terisi asa
Bukan aku yg memilihmu, hatiku yg menjatuhkan pilihannya
Menjatuhkan pada hati yang dipercayai bahagia
Terima kasih sudah membuat jatuh cinta
Walau nyatanya tak dapat kupilah mana semu mana nyata
Terima kasih sudah mengizinkan hati ini tamasya, walau tak mampu kau bawaku kembali pulang
Terima kasih sudah memberikan waktumu yg begitu berharga untuk mendengarkan cerita walau kutau telingamu tak tertarik mendengarnya
Hatimu yg berkabut, tertutup sembilu yg entah karna siapa
Begitu lebat, pekat, hingga tak mampu kumasuki jauh lebih dalam
Tanganmu yg kuat masih menggenggam sisa-sisa kenangan dengan yg terdahulu
Dahulu
Yang telah begitu memenangkan hatimu
Hingga sekarang
Yang juga mematahkanmu dengan hebatnya
Rabu, 11 Mei 2016
Yang Saya Sebut Perempuan Aneh
Saya berkali-kali menyebut, bahwa saya perempuan yang aneh. Saya lebih suka asinnya keju daripada manisnya coklat. Saya menggilai warna pink sampai semua barang-barang yang saya miliki berwarna senada. Saya bisa stress seharian melihat dark circle hasil begadang semalaman. Saya tidak suka ikan. Saya nyaman berjalan sendirian. Saya suka gelendotan. Saya menikmati sekali salah satu kegiatan dalam hidup yaitu mandi. Saya yang suka sekali qball Chatime dan jatuh cinta pada matcha latte. Dan candy crush saya yang stuck di level 60.
Saya suka dipeluk. Nanti, kalau sekiranya mood saya sedang tidak berada dalam posisi tidak baik, kamu tidak usah menghibur saya terlalu keras, cukup peluk saya, saya akan luluh. Saya suka memakai lipstick merah, apalagi di saat mood sedang tidak karuan. Saya itu aneh. Saya bisa saja tiba-tiba ingin memakai lipstick ungu saat sedang mengetik tugas kuliah, di dalam kamar. Saya itu aneh.
Bukan kamu yang memperhatikan saya selama 24 jam dengan perhatian ala-ala anak SMA sedang kasmaran yang saya mau, bukan. Kamu tidak perlu berada di sisi saya setiap waktu, cukup luangkan waktumu sesekali, menengok keadaan cintamu yang sedang baik-baik saja dengan sewajarnya. Bukan lagi rayuan-rayuan gombal yang telinga saya ingin dengar, namun tegas penuh kepastian yang saya butuhkan agar batin saya percaya, kamulah orangnya. Walau nurani saya sebagai perempuan, tidak menampik adanya kebutuhan akan rayuan gombal tersebut, cukup sematkan sesekali, seperlunya, sewajarnya, perlakukanlah saya sebagai perempuan yang sepenuhnya duniamu. Saya itu aneh, mungkin kamu sudah harus menabung sabar mulai sekarang, jikalau keanehan-keanehan saya datang sewaktu-waktu, merengek untuk ditenangkan layaknya balita yang sedang haus.
Saya sok tau, menurut saya, cinta adalah tentang penerimaan-penerimaan, pemakluman-pemakluman, dan tak bosan pulang ke rumah yang sama, betapapun sederhananya rumah tersebut, betapapun banyaknya rumah di luaran yang lebih indah, tentang kenyamanan-kenyamanan yang tercipta dari rasa aman, tentang kebutuhan, bahwa senyebelin apapun ia, keadaan akan jauh lebih buruk jika ia tidak ada.
Jangan lelah ya kamu, betapa pun anehnya saya, betapapun sulitnya saya, saya ingin kamu tetap berjuang, saya ingin kamu yang saya jadikan rumah, saya ingin lenganmu yang saya jadikan bantal tidur saya, saya ingin bahumu yang menjadi tempat bermain anak-anak saya. Ii thank you, untuk sudah mau mencintai saya, perempuan aneh yang suka pelukan.
10 Mei 2016
Rabu, 04 Mei 2016
Sendiri Itu Kuat, Berdua Itu Saling Menguatkan
Terkadang saya berpikir, betapa menyenangkannya memiliki seseorang yang saling menguatkan. Betapa menyenangkannya hidup jika di kala kita tengah berada pada titik jenuh paling rapuh, lantas ada dia sosok yang menawarkan ketenangan, bahkan sekadar untuk bermanja rebah di bahunya. Kadang saya berpikir, betapa indahnya hidup jika berdampingan dengan orang-orang yang disayang. Saya kerap memikirkan, hal-hal baik yang ditularkan oleh orang-orang yang baik pula.
Tapi bukan hidup kan namanya kalau kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Butuh perjuangan dan proses yang tingkat kesulitannya berbeda di setiap orang. Lantas yang bisa dilakukan hanyalah menambah kuat dan bersabar. Karena hanya itu pilihannya.
Menyenangkan berada di dekat orang-orang yang membuat nyaman. Sejauh ini, saya bersyukur, karena Dia senantiasa mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Ada kalanya saya sedih sendiri, ingin sekali meluapkan kesedihan tapi entah dengan cara apa, ingin sekali dikuatkan oleh ia yang memberi nyaman. Tapi pilihannya hanya satu, memperbesar kuat dan memperbanyak sabar. Kelak, pelukan-pelukan panjang itu kan datang. Kasih dari seseorang lewat hangatnya pelukan-pelukan yang paling hangat.
Karena sendiri itu kuat, berdua itu saling menguatkan.
4 Mei 2016
(Sedang dipusingkan dengan UTS dan KKN)
Kamis, 28 April 2016
Perihal Kehilangan
PERIHAL KEHILANGAN
Hilang. Ataupun Kehilangan. Saat usia saya masih 10 tahun saya pernah kehilangan, satu tempat pensil berbentuk anjing kesayangan yang berisi pensil, penghapus pun pulpen serta segala isinya. Tentu karena keteledoran saya, maletakkan dan membiarkannya di sembarang tempat. Tentu selang beberapa hari saya sudah menggantinya dengan tempat pensil yang baru. Rupanya kesedihan saya lantaran kehilangan tempat pensil kesayangan hanya selang beberapa hari, setelah saya mendapat tempat pensil yang baru pemberian Ayah saya, nyatanya saya dengan mudah melupakan si Tempat Pensil Berbentuk Anjing itu.
Selang 8 tahun, saya kembali..merasakan kehilangan. Kehilangan yang sama. Perginya sesuatu yang telah lama menemani dan terlanjur menjadi kesayangan. Tapi bukan lagi tempat pensil ; berbentuk anjing, kucing, kambing, atau bahkan cacing. Saya kehilangan seseorang. Bukan hanya seseorang, saya pun kehilangan rasa, asa, entah apa lagi yang belum kelar saya sadari semua. Bukan seperti saya melupakan si Tempat Pensil berbentuk Anjing kala usia saya 10 tahun, saya kesulitan untuk melupakan seseorang yang telah pergi. Atau, seseorang yang telah memilih pergi. Saya begitu bodoh dalam hal melupakan seseorang itu. Dengan jarak yang sekian jauhnya pun dia yang tak lagi terdengar suaranya, seharusnya saya dapat dengan mudah melupakan. Seharusnya. Seseorang itu bukanlah tempat pensil yang dapat dengan mudah diganti dengan tempat yang baru saat tempat pensil yang lama hilang. Pun kenangan di dalamnya bukan batang pensil, penghapus dan pulpen yang dapat dengan mudah dibelikan oleh Ayah saya. Bukan.
Makna ‘Kehilangan’ kala saya berusia 10 tahun dengan saya berusia 18 tahun kini, sungguh sangat jauh berbeda. Terlalu rumit, telalu sulit. Saat usia saya 10 tahun, saya begitu mudah menghilangkan. Dan kini, saat 18 tahun usia saya, saya begitu mudah kehilangan. Kata ‘Hilang’ tak lagi sederhana di kepala saya. Bukan lagi tentang tempat pensil berbentuk anjing berwarna oranye. Melainkan seseorang, yang tak ingin saya sebutkan namanya.
Saya kehilangan, entah sesuatu atau seseorang, yang pernah sebegitu saya perjuangkan. Saya tidak lagi meletakkannya sembarangan karena keteledoran saya seperti saat saya berusia 10 tahun, melainkan saya letakkan seseorang itu di tempat yang barang kali tak dapat dengan mudah terjamah orang lain. Di tempat dimana saya mengira disanalah seseorang itu akan tinggal. Tetapi nyatanya, seseorang itu menutup kembali pintu yang telah ia buka. Berbalik arah lalu melangkah pergi. Saya yang berdiri di ambang pintu itu, hanya dapat melihat punggungnya yang bidang, tempat saya bersandar kala hati tengah tak menentu, menjauh dari tempat saya berdiri. Saya bodoh. Seharusnya saya menarik tangannya dan memaksanya kembali. Tapi saya memilih diam, memanggilnya dalam tangisan. Karena kekuatan paling tangguh ada saat kita mampu menahan diri dari menahan perginya seseorang. Begitu katanya.
Dan saya begitu kehilangan. Saat hari-hari tak lagi sama. Saat saya harus menata kembali dan membuang segala hal yang telah pergi meninggalkan. Awalnya saya pikir, saya kehilangan, seorang diri. Tapi nyatanya, kamu pun merasakan kehilangan yang sama. Saya kehilangan seseorang yang saya cintai. Sedang kamu, kehilangan cinta yang teramat besar yang telah kamu paksa menggugurkan diri sebelum sempat berbunga.
5 Februari 2013
(Ditulis 3 tahun lalu, saat sedang hangat-hangatnya merasakan patah hati)